sahabat-sejati-tentang-kita-juni-2014

Tentang Kita — TIDAK SEIMBANG

Buat Kerygmers yang lagi jojoba (jomblo-jombo bahagia), atau couple (berpasangan) atau yang lagi kesengsem sama seseorang, edisi kali ini kita akan mengupas suatu pertanyaan yang sering masuk ke meja redaksi, yaitu tentang pacaran tidak seimbang, simak baik-baik ya.

Kontroversi Pacaran Dengan yang Tidak Seiman
Kalau kamu mengamati televisi atau media internet, banyak anak Tuhan memilih menjalin hubungan dengan yang tidak seiman. Tidak sedikit yang memutuskan untuk memungkiri iman mereka terhadap Tuhan Yesus “atas nama cinta”. Semua itu membuatmu bingung dan bertanya-tanya, sebenarnya boleh gak pacaran dengan yang berbeda keyakinan?

Dasar yang Benar
Sebelum memasuki sebuah hubungan, pastikan kamu mengerti konsep berpacaran yang benar. Berpacaran adalah suatu tahap yang melampaui tahap persahabatan antara seorang pria dan wanita, sebagai masa persiapan untuk memasuki tahap pernikahan. Wuih, serius banget ya kedengarannya? YA. Memang begitulah kenyataannya. Untuk hal ini, kita sudah membahas pada edisi sebelumnya (November 2014). Pada intinya, kita harus sadar bahwa berpacaran berpusat pada Tuhan, bukannya pada diri kita sendiri apalagi orang lain. Jadi dalam segala hal, termasuk dalam hal mencari pasangan, kita harus tetap mempermuliakan Tuhan.

Open Your Eyes!
Jika kamu mempertimbangkan seseorang yang berbeda iman akan menjadi pasanganmu kelak, kamu perlu melihat perbedaan yang pasti akan menjadi masalah. Perbedaan pertama: status hidup kita adalah anak-anak terang, sedangkan orang yang belum mengenal-Nya masih berada dalam kegelapan (Ef. 5:8); standar hidup kita berasal dari firman Allah (Mat. 4:4), tetapi orang yang belum mengenal-Nya sudah pasti bukan. Lalu, tidak sama dengan orang yang tidak beriman pada Tuhan Yesus, tujuan hidup kita adalah untuk menyenangkan-Nya (Kol. 1:16). Demikian juga arti hidup mereka adalah kesia-siaan (baca kitab Pengkhotbah) sedangkan arti hidup kita adalah Kristus (Gal. 2:20). Dan yang paling penting, akhir kehidupan kita adalah kekekalan, sedangkan mereka menuju maut atau kebinasaan. Ibarat dua orang yang hendak pergi kepada dua kota yang berlawanan, satu ke Utara dan yang lain ke Selatan, bagaimana bisa mereka dapat mencapai kota masing-masing dengan berjalan bersama dan mengikat satu sama lain?

Open Your Heart!
Tapi, berpacaran saja tanpa harus menikah kan boleh? Wah, sebaiknya kamu baca ulang bagian atas deh (Dasar yang teguh). Usia muda masa terbaik untuk melayani Tuhan, karena saat tidak memiliki pasangan, maka konsentrasi kita untuk melayani Tuhan lebih besar (1 Kor. 7:32-35). Jadi, jangan memulai suatu hubungan pacaran, bila kita tahu pada akhirnya akan putus karena kita tidak sedang berencana menikah dengan orang tersebut. Itu sama saja buang waktu, tenaga, biaya, perhatian, dll, sehingga sangat tidak maksimal dalam melayani Tuhan.

Lalu kalau sudah terlanjur berpacaran gimana? Nah, kalau sudah begini, kamu bisa break dulu hubungannya, buat dia satu iman dulu kalau benar-benar mau sama dia, lalu pacaran lagi kalau memang sudah satu iman. Kalau memang tidak bisa menjadi satu iman maka lebih baik ditinggalkan dan mencari yang satu iman.

Wah, tapi si dia mau mengikut Tuhan, terus gimana dong? Pada dasarnya pastikan dia benar-benar percaya dan mengalami Yesus terlebih dahulu, baru pacaran. Ini bukan tentang pindah agama, tetapi hubungan pribadi dan pengenalannya akan Kristus. Mungkin kamu bisa mengajukan pertanyaan seperti bagaimana imannya pada Kristus seandainya kamu tidak bersamanya atau batal berpacaran, apakah ia akan tetap mengasihi dan memilih Tuhan Yesus?

Hmm, kalau begini caranya, jadi susah dong dapat yang seiman? Bisa jadi. Karena kita memang berada di tengah masyarakat yang mayoritas belum mengenal Tuhan Yesus. Tapi sesuatu yang sulit belum tentu mustahil kan? Asal kamu berfokus pada Tuhan, membuka hati untuk percaya pada tuntunan-Nya sambil melakukan langkah iman (memperluas pergaulan, terutama dengan yang seiman), Ia pasti sanggup menyediakan yang terbaik bagi kita (Mat. 7:11). Lakukan bagian kita dengan semaksimal mungkin, dan Ia akan bertindak.

“Hanya ada dua pilihan: Anda mau memilih mengikuti standar Tuhan atau Anda mau mengikuti standar dunia.” – Myles Munroe, Penulis “Waiting and Dating”

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *