spesial-valentine-februari-2016

Special Valentine 2016 – PAHLAWAN CINTA YANG SESUNGGUHNYA DALAM TRAGEDI

Sambil berdiri di hadapan para korban selamat, aku memulai ceritaku, Empat tahun sudah berlalu semenjak tragedi naas itu. Sekarang aku ingin berbagi dengan kalian. Tak pernah kubayangkan bahwa aku akan bertemu pahlawan cinta yang sesungguhnya. Aku akan mulai dari kisah hidupnya.

John Harper lahir dari pasangan Kristen yang harmonis pada 29 Mei 1872. Pada hari Minggu terakhir, bulan Maret tahun 1886, ketika ia berusia 13 tahun, ia menerima Yesus sebagai Tuhan dalam hidupnya. Dia tidak pernah tahu apa itu “menabur benih.” Empat tahun kemudian, sambil berkeliling di jalan-jalan desanya, Harper mulai berkhotbah dan memberikan hidupnya untuk sesamanya mengenal Allah.

Seiring jalan kehidupan dan waktu yang terbentang, satu hal yang jelas… ia selalu memikirkan firman-Nya. Banyak pengerja gereja bertanya, apa yang sedang ia ajarkan, dan ia pasti menjawab, ‘Firman Allah!’

Setelah enam tahun berpeluh di sudut-sudut jalan memberitakan Injil dan bekerja di pabrik pada siang hari, Harper diajak Pendeta Carter, seorang misionaris Inggris untuk ke London. Ini membuatnya senang karena ia bebas memberikan seluruh waktu dan energinya untuk kegemarannya, melayani. Tidak lama, ia pun mendirikan gereja sendiri di bulan September 1896. Kalian bisa melihatnya di internet, sekarang dikenal sebagai Harper Memorial Church.

Gerejanya hanya dihadiri 25 orang jemaat saja awalnya, tapi 13 tahun kemudian, setelah berkembang menjadi lebih dari 500 orang ia meninggalkannya. Selama waktu itu ia menikah, tapi tak lama ia menjadi duda. Namun dalam pernikahannya yang singkat, Allah memberkati John Harper dengan seorang gadis kecil cantik bernama Nana. Aku pasti membayangkan betapa berharganya Nana baginya.

Aku tidak tahu bahwa Harper sudah pernah hampir tenggelam beberapa kali semasa hidupnya. Ketika berusia dua setengah tahun, ia hampir tenggelam saat jatuh ke dalam sumur, tetapi tertolong oleh ibunya. Lalu di usia 26, ia tersapu ke laut oleh arus balik dan hampir tidak selamat, dan pada 32 tahun umurnya, ia menghadap maut dalam kapal bocor di Laut Mediterania. Entahlah… Mungkin, Tuhan menggunakan pengalamannya ini untuk mempersiapkannya menghadapi yang berikutnya.

Malam itu tanggal 14 April. Kapal terbesar yang pernah diciptakan, Titanic, berlayar cepat di perairan laut dingin. Di atas kapal laut mewah ini, kami, aku dan banyak orang kaya dan terkenal besertaku menggoreskan torehan sejarah tanpa sengaja. Tengah malam sekitar pukul 11:40, sebuah gunung es menggores sisi kanan kapal, menghujani dek kapal dengan bongkahan es dan merobek enam kompartemen kedap air, sehingga air laut mengalir masuk. Aku tersadar, kapal kami akan tenggelam.

Malam itu juga, di atas kapal itulah John Harper dan putri tercintanya yang berumur enam tahun berada. Tapi, saat kapal menemui naas, aku rasa tidak ada yang melihat John Harper segera membawa putrinya ke sekoci. Aku tidak mengerti mengapa hal itu tidak terlintas dalam pikirannya. Dia hanya membungkuk dan mencium gadis kecilnya yang berharga; dan sambil menatap matanya mengatakan bahwa mereka akan bertemu lagi suatu hari nanti.

Suar dinyalakan ke langit gelap di atas sebagai tanda meminta bantuan. Namun, ia berbalik dan menuju kerumunan manusia yang putus asa pada kapal laut yang sedang tenggelam. Seiring bagian belakang kapal raksasa kami mulai condong terguncang ke atas, Harper terlihat berusaha mencapai ke atas dek dan berteriak, “Wanita dan anak-anak perlu diselamatkan dahulu, larilah ke dalam sekoci!” Waktu itu hanya beberapa menit sebelum Titanic mulai bergemuruh jatuh masuk ke dalaman samudra. Bunyi gemuruh terdengar seperti ledakan; namun sebenarnya kapal kami benar-benar terbelah menjadi dua. Saat itulah, aku dan banyak orang melompat dari dek menuju laut dalam. John Harper juga ikut melucur ke bawah. Detik ini, aku masih bisa merasakan bagaimana gelap dan dinginnya air laut yang mungkin saja membekukanku hidup-hidup. Mengingatnya saja membuatku bergidik.

Malam itu aku dan sebanyak 1.527 orang lainnya masuk ke perairan beku. Aku berusaha menyelamatkan diriku dengan mencari puing-puing kapal yang cukup besar untuk kunaiki. Ketika itulah aku melihat Harper tampak berenang panik menghampiri kami yang ada di dalam air dan memimpin mereka kepada Tuhan Yesus sebelum hipotermia membunuh kami.

Sampai saat ia berenang ke arahku sambil tersengal dia bertanya padaku, “Apakah kau sudah diselamatkan?” Tentu saja kujawab belum. Harper kemudian berusaha menceritakan tentang Kristus dan membawaku pada keselamatan. Tentu saja aku shock mendengar ajakannya, dan aku pun menolaknya. Namun reaksinya lebih membuatku terkejut… Aku terhenti hingga kalimat itu.

Ia melepas jaket pelampungnya dan melemparkannya kepadaku dan berkata, “Kalau begitu ini, kamu lebih membutuhkan ini daripada aku…” kemudian ia berenang menjauh ke orang lain. Aku tidak pernah melihat orang seperti dia dalam hiduku. Kasih Tuhan sudah menguasai hatinya. Beberapa menit kemudian ia berenang kembali ke arahku dan aku pun dibawanya kepada keselamatan. Aku terhenti kembali dan menatap orang-orang di depanku satu per satu.

Dari 1.528 orang yang masuk ke dalam air malam itu, hanya enam orang yang berhasil selamat dengan sekoci. Salah satunya adalah aku. Aku melihat Harper telah berusaha berenang kembali untuk membantu orang lain, namun karena suhu dingin yang sangat tajam, ia menjadi terlalu lemah untuk berenang. Aku mengingat kata-kata terakhirnya sebelum ia membeku dan jatuh ke dalam perairan dingin: “Percayalah dalam nama Tuhan Yesus dan engkau akan selamat.” Tak terasa air mataku mengalir membasahi pipiku. Aku sungguh bersyukur di dalam hati, berterima kasih karena Ia mengirim Yesus, seorang Penyelamat Sejati bagiku, seperti ia telah mengutus John Harper bagi kami.

Apakah di Hollywood mengingat Harper? Tidak. OK, baiklah, tidak masalah. Hamba Allah ini melakukan apa yang harus dia lakukan. Sementara orang lain menyogok untuk mendapat jalan mereka ke sekoci dan dengan egois, berusaha menyelamatkan nyawa mereka sendiri, John Harper menyerahkan hidupnya sehingga orang lain bisa diselamatkan. John Harper benar-benar pahlawan Titanic!

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Yoh. 15:13

(Dikutip dari artikel “The Titanic’s Last Hero” terbitan Moody Press 1997, http://www.heavensinspirations.com/titanic.html)

Photo Credit: https://upload.wikimedia.org

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *