special-valentine-februari-2015

SPECIAL VALENTINE 2015 — SEMANGKUK NASI PUTIH
(based on true story)

traktat-special-easter-april-2014

Pada sebuah senja, dua puluh tahun yang lalu, ada seorang pemuda yang terlihat seperti seorang mahasiswa, berjalan mondar mandir di depan sebuah rumah makan cepat saji di kota metropolitan. Menunggu sampai tamu di restoran sudah agak sepi, dengan segan dan malu-malu dia masuk ke dalam restoran tersebut.

“Tolong sajikan buat saya semangkuk nasi putih.” Dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan. Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.

Ketika pemuda ini menerima semangkuk nasi putih dan kemudian membayarnya, setengah berbisik ia berkata dengan pelan, “Dapatkah menyiramkan sedikit kuah sayur di atas nasi saya?” Istri pemilik restoran itu berkata sambil tersenyum, “Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar!”

Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir, “Kuah sayur gratis.” Lalu ia memesan semangkuk nasi putih lagi. “Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya.” Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda itu. “Bukan, saya akan membawanya pulang, besok akan saya bawa ke sekolah sebagai bekal makan siang saya!” Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini tentu dari keluarga miskin dari luar kota, demi menuntut ilmu datang ke kota, mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan itu sudah pasti. Berpikir sampai di situ pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging dan sebutir telur, disembunyikan di bawah nasi, kemudian membungkus nasi tersebut. Sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan memberikan kepada pemuda ini.

Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini, hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan di bawah nasi? Suaminya kemudian berbisik kepadanya, “Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk di nasinya, dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung, lain kali dia tidak akan datang lagi. Jika dia ke tempat lain hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk bersekolah.”

“Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga dirinya.”

“Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku?” Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain.

“Terima kasih, saya sudah selesai makan.” Pemuda ini pamit kepada mereka. Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikan badan melihat dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka.

“Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat !” kata pemilik restoran itu sambil melambaikan tangannya. Dalam perkataannya bermaksud mengundang pemuda ini besok agar jangan segan-segan datang lagi. Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu. Mulai saat itu, setiap sore pemuda ini singgah ke rumah makan mereka, sama seperti biasa setiap hari hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan harinya. Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi di bawah nasi, sampai pemuda ini menamatkan kuliahnya. Hampir selama 20 tahun kemudian, pemuda ini tidak pernah muncul lagi.

******

Pada suatu hari, ketika pemilik restoran itu telah berumur sekitar 50 tahunan, pemerintah melayangkan sebuah surat pada mereka, bahwa rumah makan mereka harus digusur. Tiba-tiba kehilangan mata pencaharian, sementara mereka mengingat anak-anak mereka yang tengah di sekolahkan di luar negeri yang tentu memerlukan biaya besar setiap bulannya. Suami istri ini hanya bisa berpelukan sambil menangis dengan panik.

Di tengah kepanikan mereka, masuklah seorang pemuda yang berpakaian stelan jas bermerek, ke dalam restoran mereka. Laki-laki itu terlihat seperti seorang direktur perusahaan dari kantor yang bonafid. “Apa kabar? Saya adalah wakil direktur dari sebuah perusahaan, saya diperintahkan oleh direktur kami, untuk mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami. Perusahaan kami telah menyediakan semuanya, kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian ke sana. Keuntungannya akan dibagi dua dengan perusahaan,” ucap laki-laki itu dengan ramah.

“Siapakah direktur di perusahaan Anda? Mengapa begitu baik terhadap kami? Saya tidak ingat mengenal seorang yang begitu mulia,” suami istri ini berkata dengan terheran-heran.

“Kalian adalah penolong dan kawan baik direktur kami. Direktur kami paling suka makan telur dan dendeng buatan kalian, hanya itu yang saya tahu. Lainnya dapat kalian tanyakan saat bertemu dengannya nanti.”

Akhirnya,… pemuda yang hanya memakan semangkuk nasi putih itu muncul. Setelah bersusah payah selama 20 tahun, akhirnya ia dapat membangun kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang direktur yang sukses. Dia merasa kesuksesannya saat ini adalah berkat bantuan sepasang suami istri itu. Jika mereka tidak membantunya, mana mungkin dia akan dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sesukses sekarang.

Setelah berbincang-bincang, suami istri itu pamit hendak meninggalkan kantornya. Pemuda ini berdiri dari kursi direkturnya dan dengan membungkuk dalam-dalam berkata kepada mereka, “Bersemangat ya! Di kemudian hari perusahaan ini tergantung kepada kalian, sampai bertemu besok!”

Kebaikan hati dan balas budi, selamanya dalam kehidupan manusia adalah suatu perbuatan indah dan paling mengharukan.

(Repost from William Setya Lijaya)

Photo Credit: http://topwalls.net

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *