spesial-easter-3

SPECIAL EASTER 2015 — DI BUI AKU MENEMUKAN JALANKU

traktat-special-easter-april-2014

spesial easter

Kami sedang asyik menghisap pipa hashish (ganja) ketika pintu kamar hotel kami diketuk. Pipa yang kami hisap bersama masih penuh. Aku (Douglas Norrgard), Richard, Carolyn, dan Helen saling berpandangan. Ada rasa cemas di hati kami semua. Richard kemudian membuka pintu setelah ia menyembunyikan pipa yang barusan kami hisap. Tetapi, itu percuma saja dilakukan. Polisi yang kemudian masuk ke kamar kami, dengan cepat dapat menemukannya. Kami pun digelandang ke kantor polisi. Kami ditahan dengan tuduhan menjual obat bius di jalan-jalan kota Madena, Italia.

Kami semua menyadari bahwa saat itu kami sedang menghadapi persoalan besar dengan polisi Italia. Kami akan dihadapkan dengan undang-undang negara. Entah berapa tahun kurungan harus kami jalani. Membayangkan hal itu, aku menjadi takut dan cemas. Tapi aku sadar, bahwa aku tak punya daya apa pun untuk menghindar dan menyelamatkan diri. Kami tertangkap basah, sehingga tak mungkin lagi dapat mengingkari dan mengelak dari semua tuduhan yang diarahkan kepada kami.

Beberapa waktu sebelumnya, aku baru saja menyelesaikan tugas wajib militer di Angkatan Laut. Aku langsung pulang ke California, tempat tinggal ketika masa kanak-kanak. Sesaat aku melibatkan diri dalam kehidupan politik. Karena tidak puas, aku pun meninggalkannya dan beralih dalam kehidupan keagamaan negara-negara Timur. Tetapi, hal ini pun ternyata mengecewakan. Karena terus kecewa, maka aku mengambil jalan pintas: obat bius! Dan aku pun terperangkap!

Mula-mula aku hanya menghisap obat bius yang tidak terlalu keras. Tetapi, akhirnya aku pun menghisap LSD (Asam lisergat dietilamida yakni merupakan suatu narkotika halusinogen) dan hashish. Memang, semula hal itu hanyalah sekadar untuk kelepasan, bukan untuk kenikmatan. Tetapi, ketika seorang teman menawariku untuk ke Eropa, pada saat itu aku sungguh-sungguh sudah terikat dengan LSD secara terus-menerus.

Kondisi keuanganku sesungguhnya cukup baik. Aku memiliki sebuah mobil sport, mobil yang banyak dirindukan mereka yang menganggap dirinya telah sukses. Koleksi pakaianku pun banyak dan mentereng di lemari. Hanya saja, aku selalu merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupku. Aku sering merasa bahwa hidup ini hampa. Setelah mengunjungi Inggris, Skotlandia, Perancis, dan Spanyol, perjalananku berakhir di negeri asal obat bius, Maroko. Di Maroko inilah aku mengenal Richard dan dua kawan gadisnya, Carolyn dan Helen. Mereka berasal dari New Zealand. Segera saja kami pun menjadi akrab dan memutuskan untuk mengontrak sebuah rumah untuk kami tinggali bersama-sama.
Pada jam-jam santai, kami bersama-sama menghisap hashish di rumah itu.

Suatu hari, Richard mengatakan bahwa ia memunyai kawan baik di Genoa. Temannya tersebut biasa memperdagangkan obat bius yang sudah disamarkan, dengan membungkusnya di dalam kotak-kotak kecil dan kemudian mencelupkannya ke dalam cokelat beku. Hashish yang sudah disamarkan ini kemudian dikemas, kemudian dikirim ke Amerika. “Kalau kita bisa menyelundupkan ke Genoa, kita akan mendapat untung yang besar,” kata Richard. Di Maroko, setiap kilogram hashish bisa dibeli dengan USD 1.300 dan bisa dijual dengan harga antara USD 10.000 sampai USD 15.000 di New York. Kami kemudian memulai perjalanan dengan truk milik Richard. Kami bisa melewati beberapa pelabuhan tanpa mendapat kesulitan, hingga akhirnya kami tiba di Madena, Italia.

Uang kami telah menipis, padahal kami harus membayar untuk memindahkan truk. Semula, kami berusaha mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang. Beberapa kenalan dan kawan pun kami telegram untuk dimintai bantuannya, hasilnya nihil. Karena jalan buntu, kami kemudian sepakat untuk menjual sebagian hashish yang kami bawa. Tak sukar untuk mendapatkan pembelinya. Pemakai obat bius selalu dapat saling berhubungan tanpa kesulitan. Kami menjualnya dengan harga miring, sehingga banyak orang yang kemudian mendengarnya. Bahkan juga polisi! Akibatnya, kami berempat harus meringkuk di dalam bui.

Koran-koran Italia memberitakan tentang penangkapan kami di halaman depan koran mereka. Berita tersebut ternyata mengundang perhatian Athur Weins, seorang pekerja di Back to Bible Italia. Ia langsung menghubungi dan menemui kami. Sejak saat itu hingga 39 minggu berikutnya, tiada putus-putusnya ia mengunjungi kami di penjara. Ia selalu menghibur kami dengan kabar keselamatan. Dikatakannya pula bahwa rekan-rekannya mendoakan kami dalam doa kelompok.

Kami berempat tidak menyukainya, lebih-lebih saya dan Richard. Soalnya, ia selalu mengatakan bahwa kami adalah orang yang berdosa. Pernyataan itu membuat kami resah dan tak enak. Namun, hanya dialah yang dapat memberikan bacaan-bacaan berbahasa Inggris untuk kami. Bacaan itulah satu-satunya alat bagi kami untuk merintangi waktu selama kami mendekam di dalam penjara. Bacaan yang diberikannya adalah Alkitab. Bacaan lainnya, yang disediakan pihak penjara berbahasa Italia, dan tak seorang pun di antara kami berempat yang bisa berbahasa itu.

Helenlah yang pertama kali menerima Kristus sebagai Juru Selamat akibat membaca Alkitab itu. Seminggu sekali, aku mendapat kesempatan untuk mengunjunginya. Ia mengatakan kepadaku bahwa ia telah menaruh iman dan kepercayaannya kepada Kristus. Aku gusar sekali mendengar perkataannya itu.

“Douglas, pertaruhkanlah kepercayaanmu kepada Kristus. Aku sungguh-sungguh telah mendapatkan damai itu, damai yang telah kucari bertahun-tahun lamanya,” katanya. Tak bosan-bosannya Helen mengatakan hal itu kepadaku, tetapi aku tetap menolaknya. Bahkan aku menertawakannya. Sejak saat itu, aku memang rajin membaca Alkitab, namun dengan tujuan untuk berusaha membuktikan bahwa apa yang ada di dalam Alkitab adalah salah. Tetapi, kenyataan berkata lain. Alkitab ternyata sebuah buku yang mempunyai daya tarik yang sangat kuat. Aku membaca dan terus membaca serta mengulanginya. Aku memang meluangkan banyak waktu untuk melakukan itu.

Aku melihat Helen kini telah berubah. Ia tampak bahagia, penuh damai, dan memiliki kepuasan batin. Pada waktu kami diperiksa di pengadilan, aku benar-benar terpukul karenanya. Aku, Richard, dan Carolyn mendapat pemeriksaan ketat dengan mendapat pertanyaan gencar dan menyudutkan. Helen sama sekali lepas. Ia tak mengalami kesulitan apa-apa dalam pemeriksaan itu.

Athur Weins tetap mengunjungi kami. Ia tetap ramah, meski kami menentang dan membuatnya sakit hati. Weins tetap membawakan bacaan-bacaan rohani untuk kami. Secara iseng-iseng saja kemudian aku membacanya. Saat aku membacanya, di sampingku pasti ada Alkitab, dengan tujuan untuk membandingkannya. Hal itu berguna untuk menyangkal Weins apabila ia datang keesokan harinya.

Aku tak pernah dapat melakukan serangan terhadap Weins secara telak. Justru serangan itu berbalik menghantam kami, meskipun kami sadar bahwa hal itu bukanlah kemauan Weins. Bacaan-bacaan itu pada akhirnya menuntunku untuk menyadari bahwa Kristus Yesus telah datang di hatiku untuk menyelamatkan diriku yang berdosa. Aku menyerahkan diriku ke dalam tangan-Nya dan menerima-Nya sebagai Juru Selamatku. Aku menemukan kepuasan yang tidak terhingga di dalam Dia. Aku merasa luruh, ikhlas, dan menyatu. Richard memerhatikan diriku dan menjadi heran karenanya. “Apa yang terjadi denganmu, Douglas? Engkau tidak lagi membantah pengawal. Aku tidak melihat keserakahan menyelimuti dirimu belakangan ini. Engkau sekarang justru lebih banyak memberi. Engkau tampak berubah!” kata Richard kepadaku.

Aku menceritakan kepada Richard tentang segala sesuatu yang telah terjadi, tentang Tuhan Yesus yang telah menjadi Juru Selamatku, dan juga tentang buku-buku yang telah banyak menuntunku untuk menemukan hal yang paling berharga dalam hidup ini. Richard menatapku dalam-dalam dengan rasa tak percaya yang terpancar dari sorot matanya. Tentu saja ia heran melihatku yang sebelumnya selalu berbicara keras kepada Athur Weins, orang yang memperkenalkan kekristenan kepada kami, tiba-tiba telah menjadi orang Kristen. “Sungguh menakjubkan. Ini luar biasa. Aku yang telah begitu lama menginginkannya, tak pernah dapat memilikinya. Engkau tahu bahwa sudah 25 tahun aku hidup dalam dunia yang penuh lumpur ini. Aku melakukan kejahatan yang satu ke kejahatan yang lain. Aku terlibat dalam berbagai kegiatan obat bius dari satu negara ke negara yang lain dengan terus berkelana. Kehidupanku lenyap, juga rumah dan keluargaku lenyap sudah. Tetapi, engkau yang selama ini lebih gigih daripada aku di dalam menentang dan menolak Dia untuk masuk ke dalam kehidupanmu, kini justru telah menerima Dia sebagai Juru Selamat pribadimu. Engkau justru lebih dahulu menemukan Juru Selamat dan Raja Damai itu!” kata Richard mirip keluhan.

“Jadi, engkau juga ingin menemukannya?” dengan ragu Richard menatapku. Aku mencoba menerangkan sesuatu hal tentang Allah kepadanya. Aku mengatakan, “Allah tidak akan mengingat-ingat bentuk kehidupan kita yang telah lalu, bila kita mau bertobat dan menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada-Nya.” Aku gembira bahwa Richard mau mendengarkan kata-kataku itu. Sejak saat itu, aku membacakan untuk Richard berbagai bacaan dari Alkitab yang dahulu diberikan Arthur Weins kepadaku. Setiap hari, hal itu kulakukan untuknya. Richard tampak berusaha memahami dengan sungguh-sungguh apa yang kami baca dan bahas bersama. Semangatnya yang besar untuk dapat memahami firman Allah, ternyata mempercepat dirinya di dalam memperoleh kepenuhan Roh.

Kami sekarang memiliki damai sejahtera yang begitu luar biasa. Tadinya, sebelum kami menerima Yesus sebagai Juru Selamat, yang kami pikirkan dan harapkan hanyalah bagaimana caranya dapat segera keluar dari bui yang tembok-temboknya tebal dan dingin ini. Kami muak dan benci bila melihat jeruji besi yang membatasi kami. Pikiran seperti itu meracuni diri kami setiap saat. Aku sendiri dahulu bertekad untuk keluar dari kamar-kamar ini dengan cara apa pun. Namun kini, setelah aku bertobat, keinginan itu sudah tidak ada lagi. Kepuasan, kedamaian, dan sejahtera yang memenuhi batinku telah mengalihkan dan menggantikan apa saja. Aku memercayakan segala sesuatunya ke dalam tangan Allah. Aku percaya sepenuhnya bahwa Allah yang telah memberikan kedamaian, kepuasan, dan sejahtera yang melimpah itu, dan telah membebaskan aku dari segala belenggu dosa, akan membebaskan diriku dari penjara pula. Entah dengan cara bagaimana. Yang jelas, Natal pertama yang kulalui di dalam penjara kurasakan begitu indah. Aku duduk bersama-sama saudara seiman dengan penuh sukacita. Kurasakan kehadiran Tuhan Yesus yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupanku. Sehabis pesta Natal, seorang sipir penjara datang ke selku. Ia tampak begitu ramah. “Tuan Norrgard, Anda dibebaskan. Pergilah ke kantor untuk mengambil surat-surat pembebasan Anda.”

spesial-easter-2

“Puji Tuhan!” kataku. Kepala penjara menyalamiku ketika aku mendatangi dia. Ia memberikan surat pembebasan kepadaku. Sesaat kemudian, aku telah menghirup udara luar penjara. Aku merasa betapa nyaman rasanya. Segera saja aku pergi ke Florence untuk mengambil dokumen kewarganegaraanku. Di sana, mereka mengatakan bahwa pembebasanku keliru dan harus kembali ke penjara. Tetapi, pada saat yang mendesak itu, seorang konsul Amerika membelaku. Setelah melalui perundingan, akhirnya aku boleh kembali ke Amerika asalkan aku mau menandatangani surat perjanjian. Aku wajib datang memenuhi panggilan pada waktunya bila pengadilan banding dilaksanakan. Dengan penuh kepercayaan kepada Kristus, surat itu kutandatangani. Aku percaya bahwa bila Kristus telah memberikan kebebasan kepadaku, Ia tidak akan membiarkan aku kembali ke balik tembok penjara.

Dari Italia, aku langsung ke Swiss untuk menikmati hari-hari kebebasanku. Betapa bahagianya aku mendapatkan kebebasan. Ketika saat pengadilan banding itu tiba, aku pun kembali ke Italia. Di sana pengadilan menyatakan bahwa aku bebas karena aku telah cukup dalam menjalani masa hukumanku. Richard masih harus menjalani hukumannya beberapa waktu lagi. Ketika bertemu denganku, ia sama sekali tidak menunjukkan kecemasan ataupun kegelisahan. Ia dengan tenang menjalani pemeriksaan dalam pengadilan banding itu. Ketika hakim bertanya apakah masih ada sesuatu yang ingin disampaikannya, Richard berkata, “Tuan, semua yang disebut dalam pemeriksaan ini benar adanya. Saya memang bersalah dan akan menerima putusan apa pun yang dijatuhkan kepadaku. Tetapi, ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada Anda sekalian. Selama di dalam penjara, saya telah menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat pribadi saya. Saya telah menjadi orang yang baru, yang diperbarui oleh Roh Kudus. Saya telah berubah berkat penyerahan diri saya kepada-Nya.”

Aku sungguh-sungguh terharu mendengar perkataan Richard itu. Ia telah menemukan apa yang selama 25 tahun lebih ini dicarinya. Ia juga telah menemukan Tuhan Yesus Kristus seperti yang telah aku dan Helen alami, termasuk juga Carolyn yang menyusul kemudian. Kami merasa berbahagia sekali karena Tuhan Yesus Kristus telah membebaskan kami, bukan hanya dari penjara manusia, melainkan dari penjara iblis dan dosa yang telah membelenggu kami di sepanjang hidup kami yang lalu. Kini, kami adalah manusia yang sungguh-sungguh telah dibebaskan karena kami memasrahkan diri kami sepenuhnya ke dalam tangan Yesus Kristus, sebagai Juru Selamat pribadi.

(Diambil dan disunting dari: Semua Karena Anugerah-Nya, Adhy Asmara, Yayasan Andi, Yogyakarta 1996, Hal. 29 – 38)

Photo Credit: https://farm5.staticflickr.com

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *