special-christmas-2015-hadiah-terindah-di-malam-natal

SPECIAL CHRISTMAS 2015 — HADIAH TERINDAH DI MALAM NATAL

Sore itu, udara di luar sudah mulai terasa dingin, Jane meringkuk di atas sofa dekat pohon Natal setinggi satu setengah meter, yang baru saja selesai dihiasnya. Malam Natal ini ia harus merayakannya seorang diri, sebab kedua orang-tua dan adiknya harus mengunjungi kakaknya, yang kuliah kedokteran di Jerman. Jane tidak ikut bersama mereka sebab ia telah menghabiskan libur musim panasnya di sana.

pohon-natal

Keluarga Jane memang tidak sekaya temannya, Kate, yang tinggal di rumah besar sebelah. Jane sering bermain di sana sepulang sekolah, sekadar menemani Kate berenang di musim panas atau belajar membuat muffin kesukaannya, di musim dingin. Bersama Kate, ia sudah berhasil membuat delapan macam muffin dari resep yang ia dapat dari Mama dan almarhum Neneknya. Namun semua akan berbeda tahun ini, Kate, satu-satunya teman yang diharapkannya bersama saat ini, sudah berangkat seminggu yang lalu, merayakan Natal di London, bersama Ayahnya.

Jane kembali menarik nafas panjang dan menghembuskannya keras-keras, saat melihat tumpukan kardus dan kertas pembungkus hiasan pohon Natal di sekitar sofanya. Beranjak dengan malas, ia memunguti kertas-kertas itu sambil membayangkan betapa senang adiknya bisa pergi ke negeri itu. Ini memang baru pertama kalinya bagi Jo diajak kedua orang-tuanya untuk mengunjungi Josh, selama ia kuliah di sana. Josh memang sangat baik ketika mengizinkan Jane tinggal bersamanya selama liburan musim panas. Ia sudah mengunjungi Swiss, Perancis, Belgia dan Belanda bersama kakaknya, walaupun hanya beberapa hari saja, saat kakaknya ditugaskan melakukan penelitian di rumah sakit umum negara-negara tersebut. Otak cemerlang Josh membuat pemerintah Jerman memberinya beasiswa prestasi dalam kuliah dan mengizinkannya pindah kewarganegaraan, serta bekerja part time di salah satu rumah sakit terkenal di Berlin. Apartemen di mana Josh tinggal pun hasil dari pekerjaannya itu.

Semua lamunan Jane buyar ketika mendadak ia mendengar suara pintu depan rumahnya diketuk seseorang. Bergegas ia menuju pintu, sambil membawa kantong sampahnya, sekalian sambil membuangnya ke tempat sampah di depan rumah pikirnya. Tampak sesosok bapak tua sedang membawa bungkusan kecil di tangannya.

“Ada apa Pak?” tanya Jane sambil tersenyum ragu-ragu. Lelaki tua dalam mantel yang sedikit kotor dan basah karena salju tersebut, menyodorkan bungkusan kotak usang di tangannya tanpa mengatakan sepatah kata pun.

“Apa maksud Anda, Pak?” kata Jane dengan nada yang berat, seolah memberi isyarat keraguannya semakin bertambah. Lelaki tua itu terus menyodorkan bungkusan itu pada Jane tanpa membuka mulutnya. Matanya tampak lelah seperti telah melakukan perjalanan yang sangat jauh. Namun ada sebersit harapan yang dalam baginya agar Jane menerima bungkusan itu. Keraguan itu tiba-tiba menghilang setelah Jane melihat tangan lelaki itu menunjukkan foto gadis remaja seusianya, yang tersenyum sambil membawa seikat bunga lily. “Cantik sekali gadis ini,” bisik Jane dalam hati.

kado-natal

“Apakah Anda ingin aku membeli bungkusan ini?” Lelaki tua itu menggelengkan kepalanya dengan lesu. Tangannya terus memegang bungkusan itu, berharap Jane segera menerimanya.
“Baiklah, tapi mengapa Anda memberikan bungkusan ini pada saya?” tanya Jane setelah menerima bungkusan itu. Lelaki itu tersenyum dan menunjuk foto gadis cantik itu. Sekarang Jane merasa agak sedikit bingung. Ia tak pernah mendapat sebuah hadiah dari orang yang tak dikenalnya. Yah, mungkin pernah, dua kali, sebuah buku novel kesukaannya dan sebuah kalung manik berwarna biru. Tapi itu juga berasal dari Will, pemain basket cukup keren di sekolahnya yang diam-diam menyukainya.

Dengan ragu dan sedikit bingung akhirnya Jane memberi isyarat agar bapak itu masuk ke dalam rumah, sementara ia membuang dua kantong sampah yang sedari tadi menunggunya. Jane mengangkat kantong-kantong itu dan bergegas berjalan ke halaman depan.

Hari sudah mulai gelap. Salju mulai turun menambah tebal nuansa putih di jalan depan rumahnya. Jane bergegas masuk ke rumah dan menemui bapak tua yang sudah menunggunya di ruang tamu. “Nah, sekarang bolehkah saya mendengar sedikit penjelasan dari Anda?” kata Jane sembari memberikan secangkir coklat hangat ke tangan lelaki tua itu.

“Bukalah,” ucap Bapak itu. Dengan menebak-nebak dalam hati apa isi bungkusan itu Jane membukanya. Kotak kecil ini, hanya dibalut seutas pita cantik berwarna biru dengan garis-garis putih dan merah di tengahnya. Saputangan dan cermin kecil.

“Itu pesan dari putriku untukmu,” ujar lelaki tua itu setengah berbisik. Tangannya sedikit gemetar memegang foto gadis yang ia sebut anaknya itu. Ia mengusap foto itu dan tersenyum kepada Jane.
“Tapi, aku tidak paham, Pak,” ujar Jane lagi.
“Ah, iya. Mungkin kau lupa. Kau memberikan saputangan itu kepada putriku untuk menghapus airmatanya, dan memberikan cermin itu sehingga ia tersenyum kembali setelah dua hari meratapi kepergian ibunya.” Lelaki itu kembali memandang foto itu dan tersenyum. “Ia menyimpannya untuk dikembalikan padamu ketika ia sudah besar dan berniat memberimu miliknya sebagai gantinya.”

Jane mulai mengingat delapan tahun lalu ketika ia berada di tempat pemakaman Neneknya di Florida. Hari itu ia melihat gadis berkepang dua sedang menangis meraung-raung di depan sebuah makam, dengan menggenggam sehelai gaun pesta berwarna merah jambu. Jane melihat ayah gadis itu berusaha membujuknya supaya ia mau pulang. Namun gadis itu terus menangis keras-keras dan tak mau beranjak. Ayahnya yang tampak sedih berusaha meraih tangan anaknya yang tak henti-hentinya terisak dan membelai baju ibunya. Saat itulah Jane berlari menghampiri gadis itu dan memberinya saputangan biru kesukaannya, pemberian Neneknya. Lalu dengan perkataan sedikit menghibur, ia memberikan cermin kecil yang selalu ia bawa, saat ia bermain boneka di mobil.

“Ia selalu berkata padaku, Ayah, aku tidak akan menangis lagi. Aku ingin ibu melihatku tersenyum seperti bayangan dalam cermin itu,” kata lelaki tua itu membuyarkan lamunan Jane. “Kau tahu, sejak itu aku tidak pernah melihat Lily menangis lagi.”

“Lalu, di manakah putrimu sekarang? Mengapa ia tidak datang dan memberikannya sendiri padaku seperti janjinya?” Lelaki tua itu tersenyum kembali. “Ia sudah bersama ibunya sebulan yang lalu.” Jane terdiam mendengar jawaban lelaki tua itu. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi lehernya seperti tercekat.

“Ia telah berusaha melawan kanker di tubuhnya selama hidupnya. Aku mendengar dari dokter bahwa umur Lily tidak akan lebih dari 7 tahun. Aku kira hari itu aku akan kehilangan istri dan anakku. Namun berkat semangat yang ia dapat dari saputangan dan cermin ini, ia bertahan hidup sampai usianya yang ke-15. Sebelum meninggal, ia berpesan padaku untuk memberikan ini padamu. Setelah pencarianku selama sebulan, akhirnya aku menemukanmu.”

Jane memandang saputangan dan cermin itu sekali lagi. “Oh ya, sebelum aku pergi, aku ingin memberikan ini padamu,” lanjutnya sambil mengeluarkan selembar kertas dari saku mantelnya. Jane menerima kertas itu dan membukanya. Sedikit terkejut ia bertanya, “Apa ini, Pak?” Tanya Jane dengan terkejut.

“Itu adalah impiannya, ia ingin mendirikan sebuah taman bermain bagi anak-anak di tengah kota, dengan nama kalian berdua. Ia menabung dari hasil toko bunga kami. Sekarang aku menyerahkannya padamu. Aku tidak bisa mengurusnya, karena aku harus meneruskan toko bunga kami,” katanya sembari pamit pergi.

Jane terduduk di depan perapian rumahnya, sambil memandang check sebesar 15 ribu dolar itu di tangannya. Setelah ia sadar dari keheranannya, ia meraih telepon dan menghubungi nomor Josh. Sambil memegang saputangan biru itu, Jane menceritakan semuanya pada Papa dan Mamanya.

bayi-Yesus-di-palungan

Malam itu menjadi Natal yang paling istimewa bagi Jane. Baginya, itu adalah hadiah paling indah yang pernah ia terima sepanjang hidupnya. Namun, yang paling membuat hatinya senang adalah kisah saputangan dan cermin kecilnya, yang membawa sukacita bagi Lily dan ayahnya. Terngiang akan perkataan almarhum Neneknya ketika memberi saputangan itu sebagai hadiah Natal yang paling diinginkannya, “Jane, ingatlah, tidak ada hadiah terindah yang dapat kita miliki selain Tuhan Yesus yang lahir bagi kita dan memberi hidup-Nya untuk menyelamatkan kita.”

(by Putri)

Photo Credit: http://www.hdwallpapers.cat

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *