special-easter-2016

Special Easter 2016 – AMAZING GRACE

Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? (1 Yoh. 3:17)

Simon memandang ke luar jendela kamarnya. Sore ini dia berjanji bertemu dengan beberapa teman gereja, untuk berlatih musik. Paskah hanya tinggal dalam hitungan jari saja, sebelum ia dan teman-temannya akan menampilkan persembahan pujian.

Jam digital di meja samping tempat tidurnya menunjukkan pukul 15.45. Simon telah terlambat 15 menit. “Oh, kenapa tidak berhenti juga sih, hujan ini? Mana motorku habis kucuci,” kesahnya dalam hati. Kedua ibu jarinya terus saja memijat tombol-tombol di blackberry-nya, sedang matanya gelisah sambil terus membaca balasan pesan teman-temannya yang masuk. Sudah lebih dari 30 menit ia menanti derasnya guyuran hujan yang tak kunjung berhenti.

Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk, terdengar suara mamanya dari balik pintu memanggilnya. “Ada telepon untukmu, dari Rani,” jelas mamanya, saat Simon membuka pintu. Mendengar hal itu, bergegas ia meninggalkan kamar, menuju ruang keluarga dan mengambil gagang telepon. “Halo.”

“Eh, halo, ini Rani. Emm, Mon, aku bisa minta tolong kah? Emm, kalo kamu mau sih,” jawab suara dari seberang.

“Minta tolong apa Ran?”

“Bisakah aku bareng berangkat ke gereja denganmu? Ban sepedaku kempis, aku dengar dari Toni kalau kamu belum berangkat ke gereja karena terhalang hujan. Kami ada latihan tamborin,” jelas Rani.

Sejenak Simon berpikir, “Duh, males banget deh, aku kan sudah terlambat, kenapa aku harus jemput dia lagi?”

“Gimana Mon?” tanya Rani di telepon,sedikit membuyarkan pikirannya.

“Mmm, waduh, gimana ya Ran, aku sudah terlambat nih. Aku gak enak sama teman-teman kalau aku harus jemput kamu duluan. Hemm, kenapa kamu gak naik ojek atau kendaraan umum saja sih?”

“Oh, gitu ya. Baiklah. Terima kasih ya, Mon,” jawab Rani mengakhiri percakapan.

Hujan sudah reda, bergegas Simon meraih tas gitarnya dan berangkat ke gereja.

Udara sore yang segar sehabis hujan. Simon harus melewati dua tikungan dan sebuah perempatan jalan lagi untuk sampai di gereja. Jalan yang dilaluinya cukup ramai, orang-orang yang tadinya berteduh di teras pertokoan, mulai melanjutkan perjalanan mereka.

Tiba di tikungan kedua, Simon melihat seorang cewek berambut sebahu dengan jaket coklat, berjalan tergesa-gesa di trotoar sambil menenteng tas kecilnya. Itu Rani. Simon mengenalinya walau hanya dari kejauhan. Mereka sudah berteman sejak SD. Rani anak yang cerdas. Sepanjang sekolahnya, ia selalu mendapat juara pertama di kelas. Sekalipun tak lagi satu sekolah sejak Simon masuk ke SMP dan SMA elit di kota, Rani tetap berteman dengannya karena mereka satu gereja.

Namun Simon tidak begitu akrab dengan Rani, karena teman-temannya yang selalu menertawakannya bila ia dekat cewek itu. Mereka selalu berkata, “Buat apa dekat sama cewek dekil gitu, cantik enggak, kaya juga enggak. Ayahnya saja cuma buruh pabrik, standarmu rendah banget!” Mereka selalu membanding-bandingkan cewek-cewek gereja dan mencari yang ‘sedap dilihat’ untuk dijadikan pacar. Sekalipun begitu, dari hati yang paling dalam, Simon merasa bersalah dan kasihan pada Rani. Ia tidak ingin menganggap Rani demikian, namun ia takut teman-temannya akan mencelanya, bila mereka tahu ia dekat dengan Rani. Perkataan teman-temannya terngiang di telinganya, membuat Simon menutup kaca helmnya dan menarik gas motornya lebih kuat. Ia tidak ingin Rani melihatnya.

Empat hari telah berlalu, Simon tak sabar menampilkan persembahan pujian di depan seluruh jemaat, dua jam lagi. Ia sudah berjanji pada teman-temannya untuk bermain sebagus mungkin. Bahkan mereka berencana untuk makan bersama setelah usai ibadah, untuk merayakan penampilan mereka. “Ya, ini pertama kalinya. Aku harus tampil sempurna!” semangatnya dalam hati. Setelah berpamitan, ia pun berangkat.

Sore yang cerah itu jalanan sedikit macet. Polisi lalu lintas tampak sibuk mengarahkan arus kendaraan ke jalan alternatif. Ia mendengar seorang sopir angkot berkata pada beberapa pengendara motor di sampingnya, “Belok kiri atau putar balik Mas, ada demo buruh pabrik kertas.” Tanpa bertanya lagi Simon pun segera mengikuti anjuran sopir itu.

Ia mengenal jalan-jalan di daerah itu. Ini memang jalan alternatif yang biasa dilewatinya, ketika berangkat ke sekolah dulu bersama Rani. Entah kenapa, Simon memperlambat laju motornya dan memandang rumah Rani dari kejauhan. Rumah kecil berpagar kayu berwarna putih itu tampak sepi, seperti tidak ada orang yang tinggal di dalamnya. Sambil terus berlalu, Simon teringat masa kecilnya bersama Rani.

Tak terasa sampailah ia di gereja, tepat jam 16.30. Beberapa penatua sudah datang dan merapikan kursi jemaat. Simon memutar pandangannya mencari tahu jika teman-temannya sudah hadir dan siap melakukan sedikit “pemanasan” sebelum naik panggung. Ia melihat Andre, keyboardistnya, melambaikan tangan ke arahnya menghampiri.

“Eh, mana yang lain?”

“Ah, dari tadi aku sudah di sini, Bro. Baru kita aja. Aku dengar si Toni bakal telat, katanya ada urusan,” jelas Andre.

“Terus, Mery, Rudi, dan Tio?” Belum sempat Andre menjawab, Mery dan Tio bergabung dengan mereka. Disusul dengan Rudi di belakangnya yang datang dengan muka kusut.

“Kenapa kamu Rud?” tanya Simon.

“Bosan banget, Bro. Bayangkan saja, aku harus tunggu mama mulai dari jam dua di salon plus tidak mau ditinggal, katanya papa gak bisa tinggalkan kantor buat jemput mama, mati gaya aku!” katanya dengan cepat.

“Hahaha.. Makanya, jadi cowok anak mama banget sih, kamu,” jawab Tio sambil tertawa. Mery hanya cekikikan melihat tingkah laku teman-temannya. “Eh, tadi si Toni BBM aku, katanya adiknya si dekil meninggal karena DB (Demam Berdarah). Kemarin waktu dibawa ke Rumah Sakit sudah terlambat,” kata Rudi sambil mengeluarkan gitar basnya.

Simon terdiam. Adik Rani meninggal? Jantung Simon berdegup keras, mengingat tiga hari yang lalu Simon menerima SMS dari nomor tak dikenal mengaku bernama Rani meminta tolong untuk menemuinya di rumahnya. Ia tidak membalas SMS itu, bahkan segera menghapusnya karena ia berpikir Rani tidak mungkin berani meminta menemuinya sejak mereka tidak lagi dekat.

Dalam ketegangan hatinya yang penuh tanya, Toni datang. “Ana, adiknya Rani, meninggal jam empat tadi. Aku baru saja membantu mengurus segala sesuatu untuk pemakamannya besok pagi,” ujar Toni dengan sedikit tersengal-sengal, habis berlari.

Lima menit berikutnya Toni menceritakan pergumulan Rani tentang keluarganya. Tiga hari yang lalu ayahnya di PHK karena pabrik kertas tempatnya bekerja tidak lagi sanggup menggaji pegawainya. Adiknya sakit panas sejak empat hari lalu, dan baru diketahui telah positif DB dan kritis ketika kemarin Toni membantunya membawa Ana ke rumah sakit. “Oh ya, Mon, Rani menitipkan pesan padaku untuk menanyakan mengapa kamu tidak membalas SMSnya,” sambungnya.

Mendengar hal itu hati Simon hancur. Ia merasa bersalah mengabaikan SMS itu. Ia juga merasa berdosa telah menjauhi Rani dan memilih gengsi. Ia merasa marah terhadap dirinya sendiri yang tidak mempunyai kasih bagi teman baiknya di waktu kecil. Ia merasa bodoh karena Rani tidak pernah membencinya sekalipun ia menjauhinya. Seandainya waktu bisa diulang kembali, mungkin Ana bisa tertolong dan masih hidup. Seandainya saja ia merespon pesannya. Seandainya saja.. Namun semuanya telah terjadi.

Sore itu, ibadah perayaan Paskah berjalan dengan megah. Namun Simon tidak merasakan kemeriahannya. Sampai tiba saatnya persembahan pujian dari Simon dan teman-temannya ditampilkan. Seiring lembutnya alunan musik yang mereka mainkan, Simon berjanji untuk belajar dari kesalahannya terhadap Rani, temannya yang setia. Bahkan ia akan membatalkan acara makan bersama dengan temannya untuk datang, meminta maaf dan menghibur Rani sepulang ibadah ini. Ia sadar bahwa Rani telah menunjukkan kasih tulus seorang sahabat karena ia mengasihi Tuhan. Kasih Tuhan telah membuat Rani tetap mengasihi Simon seperti pujian yang ia lantunkan…

Amazing grace, how sweet the sound that saved a wretch like me.
I once was lost, but now I’m found. ‘Twas blind, but now I see.
‘Twas grace that taught my heart to fear And grace my fears relieved.
How precious did that grace appear the hour I first believed.

(By Putri)

Photo Credit: https://0.s3.envato.com

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *