teenz-hero-bapak-astronomi-modern-nicolaus-copernicus

Bapak Astronomi Modern: Nicolaus Copernicus

teenz-hero-bapak-astronomi-modern-nicolaus-copernicus

Matahari adalah pusat dari tata surya kita.
Oleh karena itu, bumi kitalah yang berputar mengelilingi matahari.
Bukan sebaliknya, bumi kita sebagai pusat alam semesta
dan benda-benda langit lainnya yang mengelilingi bumi.

Apa yang dikemukakan oleh Nicolaus Copernicus, melalui teori heliosentrisme (matahari sebagai pusat alam semesta), pada abad 16 atau tepatnya tahun 1543 tersebut, jelas menjungkirbalikkan pemahaman yang telah ada dan dipercayai kala itu. Bahwa matahari yang terbit di timur dan terbenam di barat adalah karena bumi ini sebagai porosnya. Matahari berputar mengelilingi poros yang ada, yakni bumi kita. Teori geosentris (bumi sebagai pusat alam semesta) seakan menjadi runtuh dan tak berguna lagi.

Pada awalnya, teori revolusioner Copernicus ini dianggap sebagai “sesuatu yang tidak masuk akal.” Banyak kecaman –khususnya dari para teolog- bahwa Copernicus sebagai orang ‘bodoh’ yang ingin mengacaukan seluruh ilmu astronomi. Bahkan, tahun 1616, karya Copernicus On the Revolutions of the Heavenly Spheres (mengenai perputaran bola-bola langit) dikategorikan sebagai bacaan terlarang yang dikeluarkan oleh Gereja, yang kala itu punya pengaruh kuat dalam sistem ketatanegaraan. Bukunya baru dicabut dari ‘daftar hitam’ ini dua abad kemudian, yakni tahun 1828.

Ilmuwan Serba Bisa
Nicolaus lahir pada tanggal 19 Februari 1473, di Toruń, yang pada masa itu di bawah kekuasaan ordo Kristen bernama Ordo Teutonicum. Semenjak ayahnya meninggal dunia ketika usianya masih 11 tahun, bungsu dari empat bersaudara ini diasuh oleh sang paman, bernama Lucas Waczenrode. Ia membantu Copernicus memperoleh pendidikan yang baik, serta menganjurkannya untuk menjadi imam.

Pendidikan Nicolaus dimulai di kampung halamannya, lalu dilanjutkan di Chełmno yang tidak jauh dari situ. Di sana ia belajar bahasa Latin dan mempelajari karya para penulis kuno. Pada usia 18 tahun, ia pindah ke Kraków, ibukota Polandia saat itu. Di kota ini ia kuliah di universitas dan mengajar dan mengejar hasratnya pada astronomi. Setelah ia menyelesaikan pendidikannya di Kraków, paman dari Nikolaus —yang pada waktu itu telah menjadi uskup di Warmia— memintanya untuk pindah ke Frombork, sebuah kota di Laut Baltik. Waczenrode ingin kemenakannya itu menduduki jabatan staf katedral.

Nicolaus yang kala itu berusia 23 tahun, berhasil “membujuk” pamannya untuk mengizinkannya mempelajari juga berbagai macam pengetahuan. Sehingga, selain mempelajari hukum gereja, Nicolaus juga belajar ilmu kedokteran, dan matematika di berbagai universitas di Bologna dan Padua, Italia. Pada akhir pendidikannya, Nicolaus telah menjadi doktor hukum gereja, matematikawan, dan dokter. Ia juga pakar bahasa Yunani, menjadi orang pertama yang menerjemahkan sebuah dokumen dari bahasa Yunani langsung ke bahasa Polandia.

Nicolaus Copernicus meninggal di Frombork, 24 Mei 1543, pada usia 70 tahun. Ia di-“tahbis”-kan sebagai Bapak Astronomi Modern atas jasanya mengembangkan teori heliosentrisme; salah satu penemuan yang terpenting sepanjang masa, dan merupakan titik mula fundamental bagi astronomi modern dan sains modern.

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *