renungan-03-november-2016-sadar-diri

SADAR DIRI

Bacaan Alkitab Setahun:
Filemon
Ayat Emas
Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.
(Luk. 15:17)

Tuhan Yesus menceritakan sebuah perumpamaan. Seorang ayah mempunyai dua orang anak. Si bungsu suatu ketika meminta warisan sang ayah. Setelah didapatnya, ia pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan seluruh hartanya.

Saat ia kehabisan uang, si bungsu mencari kerja. Lalu ia pun bekerja sebagai penjaga babi. Ketika perutnya lapar, ia ingin memakan ampas dari makanan babi namun tidak diberi. Akhirnya, ia sadar akan keadaannya yakni jika dahulu ia adalah anak seorang yang kaya, jadi mengapa sekarang malah harus hidup menderita. Kemudian ia putuskan kembali kepada sang ayah. Kita tahu bagaimana akhir ceritanya.

Kerygmers, kalau kita renungkan, syarat pertama agar bangsa ini berubah adalah kita harus sadar akan keadaannya. Kesadaran tersebut dimulai dari diri sendiri. Sadar bahwa Allah memilihmu ada di Indonesia bukanlah tanpa alasan. Ada tujuan khusus yang harus kamu kerjakan. Tujuan tersebut adalah membenahi Indonesia. Kemudian tengoklah sejenak negeri kita ini. Betapa bobrok di sana-sini. Kemiskinan tidak kunjung reda, bencana alam kerap terjadi, masalah ekonomi serta sosial, dan masih banyak lagi.

Indonesia perlu berbenah. Tentunya bangsa ini tidak akan mampu berbenah tanpa generasi sepertimu. Ditanganmulah nasib bangsa ini akan ditentukan guys. Yuk, dimulai dari hal sederhana, seperti mengubah kebiasaan kita yang buruk. Misalnya, bencana banjir salah satunya diakibatkan oleh sampah yang menumpuk, jadi kamu yang suka makan permen atau mau membuang pembungkus makanan, buanglah di tempat sampah. Jikalau kamu berada di tempat yang tidak ada tong sampah, kamu bisa menyimpannya di dalam tasmu atau saku bajumu. Setelah sampai rumah kamu bisa membuangnya. Maka Allah yang melihat upayamu akan menambahkan padamu hikmat untuk mengubah Indonesia tercinta ini.

Sadar akan keadaan adalah syarat pertama bagi munculnya perubahan.
Doaku:
“Ampuni aku, ya, Tuhan Yesus, kalau selama ini tidak sadar akan banyak hal di sekitarku. Tolong aku untuk bisa mengerti kehendak-Mu, bahkan kerinduan-Mu atas negeriku ini. Amin.”

Photo Credit: livescience.com

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *