renungan-04-april-2016-suara-kesunyian

SUARA KESUNYIAN

Bacaan Alkitab Setahun:
Lukas 8:1-25
Ayat Emas
Sungguh, hari TUHAN datang dengan kebengisan, dengan gemas dan dengan murka yang menyala-nyala, untuk membuat bumi menjadi sunyi sepi dan untuk memunahkan dari padanya orang-orang yang berdosa.
(Yes.13:9)

Pernahkah kamu berada di tempat yang sunyi, sepi dan sendiri? Tentu kamu akan merasa takut, ngeri dan merasa sangat sendiri, meskipun awalnya kamu ngaku anak yang pemberani. Kesunyian seakan-akan menyekam dan membawamu kedalam suasana yang berbeda. Saat itulah kengerian sepertinya merajalela dan membuatmu tak berdaya.

Adakah kesunyian yang lebih mencekam, daripada Sabtu sunyi ? Keheningan yang menjembatani antara Jumat berdarah dengan Minggu bergelora,jembatan antara kematian Anak Domba dengan Kebangkitan Yesus Kristus.

Dalam kesunyian ini para murid tercekam dalam penyesalan,harapan yang kandas dan keterkejutan atas kematian Kristus.Semua harapan dan sukacita itu berhenti mendadak. Jumat malam dan sepanjang Sabtu sunyi sungguh merupakan penantian yang sepi,hening sekaligus menikam dan menyakitkan.

Dalam keheningan itu kita diingatkan kembali bahwa Kristus tidak pernah takut menghadapi kematian-Nya. Sabtu sunyi ini mengajak kita untuk mengizinkan adanya ruang bagi ketidakpastian dalam mengharapkan-Nya, khususnya ketika semua dasar untuk berharap sirna sama sekali. Menanti meski tidak berani meyakini tentang adanya sebuah kepastian. Apa sebenarnya yang sedang dinantikan dan yang sedang akan datang. Inilah yang dialami para murid di Sabtu yang sunyi itu.

Apa yang kita dapatkan hari ini? Sebuah penghayatan akan makna sebuah keheningan dan kesunyian, yang menorehkan sakit dan rasa pedih akan peristiwa pengorbanan-Nya di atas kayu salib. Hari ini juga sebuah kesempatan menantikan sesuatu yang mengejutkan, sesuatu yang dijanjikan-Nya.

Ada harapan di ujung sebuah perjalanan. Ada sukacita dari penderitaan yang dialami bersama-Nya.
Doaku:
“Tuhan Yesus, ajar aku untuk menghayati kesunyian dalam hidupku sebagai waktu aku bertemu lebih erat dengan-Mu. Amin.”

Photo Credit: elizabethhagan.com

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *