renungan-22-agustus-2014-takunda-mavima

Takunda Mavima

Ayat Emas
Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!
(Rm. 12:18)

Pada tanggal 20 Mei 2012 lalu, Takunda Mavima yang berusia 18 tahun menyetir mobilnya pulang dari pesta kelulusan SMA dalam keadaan mabuk. Bersamanya dalam mobil adalah Tim See, 17 tahun, dan Krysta Howell, 15 tahun. Mobilnya mengalami kecelakaan parah. Kedua temannya meninggal dunia sedangkan Takunda selamat. Ia terancam hukuman 30 bulan hingga 15 tahun penjara.

Ayah dari korban Tim See memohon hakim untuk membebaskan Takunda dari ancaman penjara. “Saya memohon dengan sangat agar hakim membiarkan Takunda melakukan sesuatu bagi dirinya sendiri di dunia nyata. Jangan kirim dia ke penjara dan mendapatkan kesulitan dan kepahitan. Bocah ini sudah mempelajari kesalahannya beribu kali dan ia tidak akan mengulangi kesalahannya.”

Ayah korban bisa saja marah dan menuntut pembalasan dendam. Tapi itu tidak akan menghidupkan anaknya kembali. Tidak akan merubah keadaan. Jadi ia menghadiahkan kesempatan kedua untuk hidup lebih baik bagi “pembunuh” anaknya.

Kadang kita diperlakukan tidak adil. Kadang kita mengalami kemalangan karena kesalahan orang lain. Kita ingin marah, kita ingin balas dendam. Memuaskan rasa kecewa, sakit hati dan marah. Tapi Firman Tuhan bilang, harus hidup dalam perdamaian dengan semua orang. Yaitu yang harus kita lakukan.

Ketika kita mengampuni, tidak ada jalan bagi kita untuk mengubah masa lalu. Tapi kita bisa mengubah masa depan. ~ Bernard Meltzer
Doaku:
“Bapa di Surga, aku melepas hakku untuk membalas dendam pada siapapun yang menyakitiku. Aku menyerahkannya pada-Mu. Amin.”

Photo Credit: [img]http://media.mlive.com/grandrapidspress/photo/2012/09/11547924-standard.jpg

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *