renungan-09-agustus-2014-negosiator

Negosiator

Ayat Emas
Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.
(Ams. 15:1)
Bacaan: Amsal 15:1-7

Pada Awal Februari tahun ini, Amerika dikejutkan oleh peristiwa penyanderaan seorang anak kecil berusia 5 tahun oleh seorang veteran perang Vietnam, berusia 65 tahun. Jimmy Lee Dykes adalah seorang sopir truk yang telah pensiun, dikenal sebagai orang yang bertemperamen kasar dan galak. Ia pemarah dan bahkan jika tetangganya melintas di bagian tanahnya, ia tidak segan-segan menembakkan senjata api sebagai peringatan.

Ada suatu bagian khusus di kepolisian yang bernama unit negosiator sandera. Petugas ini adalah seorang yang sangat sabar, pandai membaca reaksi penculik dan mempunyai kepandaian berbicara. Sudah pasti sang negosiator tidak akan bicara dengan nada tinggi, membentak apalagi berteriak menghadapi penculik yang marah. Ia akan menggunakan nada rendah, lemah lembut dan penuh perhitungan demi keselamatan si anak yang diculik. Akhirnya FBI berhasil membebaskan si anak, tepat pada hari ulang tahun si anak. Penculiknya melawan dan mati terkena tembakan petugas.

Kemarahan tidak bisa dibalas dengan kemarahan. Teriak tidak bisa dibalas dengan teriak jika ingin menyelesaikan masalah. Jika Ibu atau guru sedang mengeluarkan nada tinggi karena marah sama kamu, kamu harus menjawab dengan nada rendah. Jika kamu malah ikut-ikutan nada tinggi juga, itu bagaikan api yang disiram bensin.. Waaaw, gawat..! Jadi ramai banget deh..!

Hadapi kemarahan dengan ketenangan. Hadapi nada tinggi dengan kelemahlembutan. Penyelesaian akan tercapai.
Doaku:
“Tuhan Yesus, ajari aku untuk lemah lembut seperti-Mu. Walaupun rasanya tidak adil, aku mau diam saat orang tuaku marah. Amin.”

Photo Credit: manhhai via Compfight cc

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *