renungan-08-agustus-2014-gunung-tambora

Gunung Tambora

Ayat Emas
Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.
(Yak. 3:5)

Gunung Tambora di Pulau Sumbawa tercatat sebagai gunung berapi yang pernah meletus dengan kekuatan terdahsyat sepanjang abad modern. Pada bulan April 1815, Gunung Tambora meletus dengan sangat dahsyat. Dari 8 skala dahsyatnya letusan, ia bernilai 7. Abu vulkanik menutupi bumi selama berbulan-bulan sehingga sinar matahari tidak bisa menembus masuk. Suhu bumipun turun. Di benua Eropa dan Amerika, musim dingin menjadi panjang dan jatuh banyak korban. Tahun itu dikenal sebagai Tahun Tanpa Musim Panas.

Letusan gunung ini memusnahkan tiga kerajaan di Pulau Sumbawa. Korban jiwa akibat letusan langsung sekitar 10.000 jiwa. Korban karena tsunami, kelaparan dan wabah penyakit juga banyak. Ada yang menyebutkan hingga 91.000 jiwa. Pada abad 18, itu jumlah yang besar sekali. Sangat mengerikan dan merusak.

Kemarahanpun seperti itu. Sekali meledak tak terkendali, yang rusak bukan hanya diri sendiri, tapi juga merusak apa yang di sekitar kita. Hubungan-hubungan menjadi rusak dan sulit dipulihkan. Kemarahan yang dilampiaskan dan dikeluarkan seperti letusan gunung berapi, pasti akan banyak menimbulkan kerusakan.

Lidah dan mulut kitapun digambarkan seperti api yang bisa membakar hutan besar. Jika kita marah, adalah bijaksana berdiam diri terlebih dahulu. Karena kalau kebablasan, waaahh…. Bisa gawat.

Kemarahan yang tak terkendali merusak apa saja di sekitar kita
Doaku:
“Tuhan Yesus, aku benar-benar membutuhkan pertolongan-Mu, sehingga saat aku marah, aku tidak meledak dan merusak sekelilingku. Amin.”

Photo Credit: Mangiwau via Compfight cc

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *