ratu-novel-kristen-grace-livingston-hill-teenz-hero-januari-2014

Ratu Novel Kristen: Grace Livingston Hill

ratu-novel-kristen-grace-livingston-hill-teenz-hero-januari-2014

Menulis adalah alatnya untuk menafkahi dirinya, dengan kedua orang putrinya. Ia berkarier sebagai penulis ketika sang suami tiba-tiba meninggal dunia. Baginya, menulis adalah panggilan dari Tuhan. Sebab dengan menulis, ia bisa menyampaikan dasar-dasar teguh mengenai kehidupan dan dan komitmen Kristen.

Grace Livingstone Hill adalah nama panjangnya. Ia dikenal sebagai “Ratu Novel Kristen.” Tulisannya sederhana, tetapi dengan keyakinan yang dalam. Salah satu novelnya yang berjudul The Witness (1939) menarik perhatian Sunday School Herald. Buku itu telah menjadi alat yang membuat banyak orang percaya kepada Kristus dan memperbarui komitmen kehidupan Kristen.

Grace dilahirkan dari pasangan pastor Presbitarian dan istrinya, tepat sehari setelah peristiwa penembakan Lincoln (15 April 1865). Oleh kedua orang tuanya, Grace diperkenalkan tulisan melalui pembacaan buku cerita.
Novel pertama Grace adalah A Chautuqua Idyl (1887) menjadi awal dari karier panjangnya. Ia mampu menghasilkan rata-rata dua novel dalam setahun.

Ketika Grace menjadi seorang janda dan merasakan semua beban tanggung jawabnya sebagai orang tua tunggal, Grace secara alamiah berpaling kepada Alkitab untuk mencari pertolongan. Ia menemukan sebuah ayat yang begitu menguatkannya, dalam Ulangan 33:25. Ayat itulah yang kemudian menjadi moto hidupnya: “…selama umurmu kiranya kekuatanmu.” Dengan ayat inilah, Grace percaya bahwa Tuhan akan membantunya memberikan kekuatan yang ia perlukan.

Selain sebagai penulis novel, Grace juga kerap mengisi kolom religius dan memberikan kuliah. Ia ambil bagian dalam pelayanan sosial, serta aktif dalam kelompok Pemahaman Alkitab. Kitab Suci ini yang menjadi sumber inspirasinya dalam menulis.

“Saya tidak menulis hanya demi menulis. Saya berusaha menyampaikan sebuah pesan, yang telah Tuhan berikan, dan mengerahkan semua kemampuan yang diberikan-Nya kepada saya, untuk menyampaikannya. Apapun yang sudah dapat saya selesaikan, semuanya adalah karya Tuhan. Saya mencoba menuruti ajaran Tuhan dalam semua tulisan dan pemikiran saya,” demikian tegasnya kala ia diwawancarai, bagaimana caranya ia mampu merangkul pembaca dari beberapa generasi. Grace tutup usia pada 23 Februari 1947. Namun karyanya tetap abadi.

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *