tulisan-di-pasir-open-mind-maret-2014

Tulisan di Pasir

tulisan-di-pasir-open-mind-maret-2014

Di pesisir sebuah pantai, tampak dua anak sedang berlari-larian, bercanda dan bermain dengan riang gembira. Tiba-tiba, terdengar pertengkaran sengit di antara keduanya. Salah seorang anak yang bertubuh lebih besar memukul temannya, sehingga wajahnya menjadi biru lebam. Anak yang dipukul seketika diam terpaku. Lalu, dengan mata berkaca-kaca dan raut muka marah menahan sakit, tanpa berbicara sepatah katapun, dia menulis dengan sebatang tongkat di atas pasir, “Hari ini temanku telah memukul aku !”

Teman yang lebih besar merasa tidak enak, tersipu malu tetapi tidak pula berkata apa-apa. Setelah saling berdiam diri beberapa saat,…. mereka kembali bermain bersama. Saat berlari berkejaran, karena tidak berhati-hati, Tiba-tiba, anak yang dipukul tadi terjerumus ke dalam lubang perangkap, yang dipakai untuk menangkap binatang.

“Aduh,…. Tolong….Tolong!” ia berteriak kaget minta tolong. Temannya segera menengok ke dalam lubang dan berseru “Teman, apakah engkau terluka? Jangan takut, tunggu sebentar, aku akan segera mencari tali untuk menolongmu.” Bergegas dia berlari mencari tali. Saat kembali, dia berteriak lagi menenangkan temannya, sambil mengikatkan tali ke sebatang pohon. “Teman, Aku sudah datang! Talinya akan kuikat ke pohon, sisanya akan ku lemparkan ke kamu, tangkap dan ikatkan di pinggangmu, pegang erat-erat, aku akan menarikmu keluar dari lubang.”

Dengan susah payah, akhirnya teman kecil itupun berhasil dikeluarkan dari lubang dengan selamat. Sekali lagi, dengan mata berkaca-kaca, dia berkata, “Terima kasih, Sobat!” Kemudian, dia bergegas berlari mencari sebuah batu karang dan berusaha menulis di atas batu itu, “Hari ini, temanku telah menyelamatkan aku.”

Temannya yang diam-diam mengikutinya dari belakang bertanya keheranan, “Mengapa setelah aku memukulmu, kamu menulis di atas pasir dan setelah aku menyelamatkanmu, kamu menulisnya di atas batu?” Anak yang di pukul itu menjawab dengan sabar, “Setelah kamu memukul aku menulis di atas pasir karena kemarahan dan kebencianku terhadap perbuatan buruk yang kamu perbuat, ingin segera aku hapus, seperti tulisan di atas pasir, yang akan segera terhapus bersama tiupan angin dan sapuan ombak. Tapi ketika kamu menyelamatkan aku, aku menulis di atas batu, karena perbuatan baikmu itu pantas dikenang dan akan terpatri selamanya di dalam hatiku, sekali lagi, terima kasih Sobat!”

(With thanks to Juniater Hutapea juniater@gmail.com)

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *