open-mind-juli-2016

TUKANG KAYU

Suatu hari, ada dua orang laki-laki bersaudara, yang tinggal di ladang yang bersebelahan. Mereka sedang bertengkar. Ini pertama kalinya hubungan mereka retak serius, setelah 40 tahun hidup berdampingan; saling meminjamkan mesin, menyalurkan pekerja dan bahan-bahan ladang yang diperlukan, tanpa satu rintangan di antara mereka. Lalu, kekompakan yang terjalin sekian lamapun berakhir.

Dimulai dengan kesalahpahaman sepele, meluas menjadi perselisihan dan meledak menjadi saling melempar kata-kata pedas. Kemudian berujung dengan minggu-minggu yang saling bungkam. Tak ada lagi sapa di antara mereka.

Suatu pagi, terdengarlah suara seseorang mengetuk pintu rumah John. Ia membukanya dan menemukan seorang laki-laki dengan membawa peralatan tukang kayu sedang berdiri di depannya. “Aku sedang mencari pekerjaan untuk beberapa hari,” katanya. “Barangkali kamu punya pekerjaan yang bisa kulakukan untukmu? Bisakah aku membantumu?”

“Oh, ya,” kata saudara yang tertua itu. “Tepat sekali, aku memang sedang membutuhkanmu. Apakah kau melihat sungai di sebelah ladang itu? Itu ladang tetanggaku. Sebenarnya itu ladang adik lelakiku! Minggu lalu kami bertengkar. Jadi ia mengambil buldosernya dan menjebol tanggul di hulu sungai, sehingga sungai itu melebar dan memisahkan kami. Yah, memang ia melakukannya untuk membuatku jengkel, tapi aku ingin membalas yang lebih dari yang dilakukannya. Apakah kau lihat tumpukan kayu di gudang? Tolong buatkan pagar berkeliling, setinggi tiga meter, jadi aku tidak perlu lagi melihat tempatnya, atau wajahnya lagi.” Tukang kayu itu berkata, “Baiklah, aku mengerti apa yang sedang terjadi di sini. Tolong tunjukkan paku-paku dan lubang pertama di mana akan dibangun, dan aku bisa mengerjakan sesuatu yang menyenangkanmu.”

Laki-laki yang tertua pergi ke kota untuk mendapatkan bahan-bahan yang digunakan si tukang kayu, kemudian ia kembali ke kota untuk pergi berlibur. Tukang kayu bekerja keras sepanjang hari itu. Ia mengukur, menggergaji dan memaku. Kira-kira petang hari, ketika sang petani yang tertua itu kembali, si tukang kayu telah menyelesaikan pekerjaannya.

Petani itu memandang berkeliling lalu wajahnya muram. Tidak ada pagar sama sekali. Melainkan sebuah JEMBATAN. Jembatan yang terbentang dari satu sisi sungai ke sisi lainnya! Jembatan yang kokoh dan indah dengan pegangan tangan dan hanya itu!

Kemudian, tetangga sebelahnya, yaitu adik laki-lakinya, datang menghampiri ke arah jembatan dengan tangan yang terulur. “Kamu cukup berbesar hati untuk membangun jembatan ini setelah semua apa yang terlanjur kukatakan dan lakukan kepadamu.” Kakak beradik itu berdiri di ujung jembatan masing-masing dan mereka berjalan ke tengah jembatan, meraih tangan satu dengan yang lainnya. Mereka berbalik untuk melihat si tukang kayu yang sedang mengayunkan tas peralatannya ke punggungnya.

“Hei, jangan pergi dulu! Tinggalah untuk beberapa hari. Aku punya banyak pekerjaan untukmu,” kata lelaki tertua.
“Aku ingin dan senang untuk tinggal,” kata si tukang kayu, “tapi Aku masih harus membangun jembatan-jembatan yang lainnya.”

Kehidupan tidak selamanya sesempurna yang kita harapkan. Ada kalanya sebuah hubungan yang begitu indah harus kandas oleh keegosisan. Rasul Petruspun menegaskan bahwa kasih adalah harga mati yang harus dimiliki oleh setiap orang demi terciptanya kehidupan yang layak dan damai. Kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Dalam I Korintus 13:2, Rasul Petrus mengatakan bahwa sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Milikilah KASIH.

Photo Credit: http://noihirek.hu

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *