open-mind-mei-2015-ikan-dan-kera

IKAN DAN KERA

Alkisah, hiduplah seekor kera yang bersahabat dengan seekor ikan. Sang kera hidup di atas sebatang pohon, yang tumbuh tinggi di pinggir sungai – tempat hidup si ikan. Mereka sering meluangkan waktu untuk mengobrol dan bertukar pikiran bersama-sama. Kadangkala canda tawa mereka terdengar, sungguh persahabatan yang indah.

Hingga pada suatu saat… Kera sedang bertengger di atas dahan tertinggi di pohon itu. Dari sana ia melihat sesuatu di kejauhan. Ya! Banjir bandang di hulu sungai. Dengan kecepatan yang tinggi banjir bandang siap menerjang tempat yang lebih rendah… termasuk tempat tinggal kera dan ikan!

Segera saja kera melompat ke bawah, memanggil sang ikan seraya bekata, “Hoi ikan!! Dimana kamu?” “Aku di sini kera,” jawab sang ikan.

“Cepat ke mari… Banjir bandang melanda dari hulu sungai sana. Cepatlah kau ikut aku. Biar kuselamatkan kau. Akan kuamankan kau bersamaku di puncak dahan tertinggi pohon ini.”

“Tapi kera…” jawab sang ikan pelan….belum selesai ia berbicara, si kera sudah memotong perkataannya, “Sudahlah!! Tak ada waktu untuk berdebat! Yang penting kau aman!” tegas kera sambil segera menyambar sang ikan dari dalam air. Setelah itu segera ia beranjak melompat ke dahan tertinggi pohon itu, sambil memeluk erat ikan sahabatnya.

Benar saja,…tak lama, datanglah banjir bandang, mendera semua benda di permukaan rendah di seputar sungai. Satu jam lamanya banjir melalui daerah itu. Sampai akhirnya kemudian berlahan-lahan mulai surut. Selama itu pula kera memeluk erat ikan sahabatnya, demi keselamatan sang ikan.

Setelah reda… kera segera melompat kembali ke bawah, hendak mengembalikan sang ikan ke dalam sungai, tempat tinggalnya. Dibukanya tangannya, dan terlihat sang ikan masih tertidur menutup matanya.

“Hai ikan, ayo bangun!” serunya. Tapi sang ikan diam saja. “Ikan… Ikan… bangunlah! Banjir bandang sudah berlalu. Ayo, segeralah melompat ke sungai, rumahmu.” Tapi ikan tak menyahut, masih diam di tangan si kera.

“Ikan…!!! Ikan…!!” Kera berseru keras berulang-ulang. Tersadarlah ia, ternyata ikan sahabatnya telah mati. Mati akibat pelukannya. Manalah ada ikan hidup di luar air? Sekalipun banjir bandang melanda, air tetaplah tempat ternyaman bagi ikan. Dan bukan dalam pelukan hangat sang kera, di atas dahan yang jauh dari air.

Itulah sebenarnya pesan yang hendak disampaikan sang ikan. Tapi kera tak peduli. Dengan cara pandangnya sendiri, ia hendak menyelamatkan ikan. Namun bukannya selamat, sang ikan malah mati kekeringan.

Seringkali dalam kehidupan ini kita gegabah menentukan sesuatu yang terbaik bagi orang lain. Kehidupan orang lain tidaklah sama dengan kehidupan kita. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik untuk orang lain. Mencoba menolong orang lain jika dilakukan dengan cara yang salah, justru bisa menghancurkan orang yang kita tolong.
(unname)

Photo Credit: http://fc07.deviantart.net

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *