open-mind-feb-2017

APEL UNTUK MAMA

Seorang gadis kecil datang menemui ibunya. Di kedua tangannya menggenggam apel. Ibunya menghampiri dan berkata lembut padanya, “Sayang, bolehkah Mama meminta salah satu apel itu?”

Gadis itu menatap ibunya beberapa saat, kemudian tiba-tiba ia menggigit kecil sebuah apel, mengunyah dan menelannya. Kemudian ganti menggigit buah apel lain di tangan satunya, mengunyah dan menelan sekaligus.

Si ibu merasa senyum di wajahnya membeku. Tapi ia berusaha keras untuk tidak mengungkapkan kekecewaannya. Kemudian gadis kecil itu menyerahkan salah satu apel berwarna merah, yang tadi digigitnya pada ibunya sambil berkata, “Mama, ini untuk Mama, karena yang ini lebih segar dan manis,” ucapnya sambil tersenyum manis.

Jika saja ibu tadi cepat menjadi gusar dengan apa yang dilakukan anak gadisnya, tentu amarah yang akan menguasainya. Merasa tidak dihargai dan dihormati oleh anak yang dikasihinya, dengan memberikan apel bekas gigitannya. Tentu saja ia tidak akan mendapatkan penjelasan mengapa anaknya berbuat demikian.

Tidak peduli siapa Anda, seberapa banyak pengalaman dan pengetahuan yang Anda miliki, usahakan untuk tidak tergesa-gesa menghakimi. Berikan seseorang kebebasan untuk menjelaskannya sendiri. Apa yang Anda lihat mungkin bukan realitas, jangan cepat memberi kesimpulkan.

“Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.”
(Amsal14:29)

Photo Credit: http://www.freehdimages.in

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *