teen-idol-nov-2016

RINRIN MARINKA : BANGKITLAH DARI KEGAGALAN!

idol1

“Food is art … Food is perfection … Food is passion, and passion never seeks permission. So, live life to the fullest”, moto Chef Marinka.

Maria Irene Susanto atau yang akrab dikenal dengan Rinrin Marinka, lahir di Jakarta, 22 Maret 1980, mengaku hobi memasaknya tumbuh sejak SD. Ia lulusan dari Le Cordon Bleu, Sydney, Australia, dengan keahlian khusus French Cuisine & Patisserie.

Mulanya berbagai macam bahan masakan dicampur dan diolah sesuka hati, dan hasilnya? “BUSUK” kalau kata Chef Juna. Selama delapan tahun di Sydney, ia terbiasa melakukan segala hal sendiri. Inspirasi muncul dari majalah, buku masak dan sumber lainnya. Chef Marinka tidak mudah menyerah, ia terus bereksperimen dengan berbagai masakan dan kue.
“Seniman itu, kan kalau nggak puas, akan mengulang lagi. Begitu juga dengan memasak. Kalau nggak enak, mending diganti. Memasak itu harus sempurna. Kalau nggak, jangan disajikan deh,” kata chef yang sedang sibuk membuka Mars Kitchen, healthy café, di kawasan Fatmawati, Jakarta.

“Food is art … Food is perfection … Food is passion, and passion never seeks permission. So, live life to the fullest”, moto Chef Marinka. Kenapa? Karena makanan yang dihasilkan para chef adalah makanan berkualitas, rata-rata berkelas. Nggak mungkin seseorang mau bayar mahal untuk makanan yang rasanya biasa-biasa saja, khan?

“Aku jelas nggak mau bayar makanan yang satu porsi seharga minimal Rp 80.000 untuk makanan yang rasanya nggak super duper enak. Gimana dengan kalian?” tutur chef yang juga juri Master Chef Junior Indonesia ini.

Setelah bertahun-tahun menggali ilmu di luar negeri, dan beberapa kali mengembangkan karirnya di dunia kuliner, akhirnya ia kembali ke Indonesia. Chef Marinka sempat menyalurkan hobi memasaknya dengan membuka kafe “Warung Telur Ceplok” pada tahun 2005 di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. Harga menu yang dijual antara 20.000 sampai 35.000an. Tapi, karena keliru menerapkan konsep pemasaran, warungnya hanya bertahan 1,5 tahun.

Selain kesibukannya membawa acara masak dan menjadi juri di Master Chef Indonesia, ia juga pengajar di Pantry Magic Cooking School, Kemang. Tentu saja, sekarang ia makin disibukkan dengan healty cafe miliknya yang juga baru saja dibuka.

Nah, ditengah-tengah kesibukannya tersebut Chef Marinka masih berkenan meluangkan waktu untuk Kerygma Teenz. Yuk, simak obrolan berikut.

Siapa sebenarnya yang membuat Chef Marinka jadi hoby memasak, bahkan sampai jadi seorang chef.
Mama saya, karena mama tidak bisa memasak dan saya ingin memasak untuk keluarga saya.

Punya tokoh idola gak? Siapa? Mengapa mengidolakan mereka?
Jamie Oliver, karena dia sangatmenginspirasi saya pada saat saya masih muda, terutama di dunia kuliner

Menurut Chef Marinka, bagaimana sih menjadi jawaban generasi muda melalui bidang yang sekarang ditekuni/talenta yang dimiliki? Apa tantangan terberatnya?
Selalu maksimalkan talenta yang sudah diberikan olehTuhan dan berusaha membagikannya bagi sesama.

Ada gak sih kesukaran yang dialami saat mewartakan cinta kasih Tuhan Yesus melalui urusan di kitchen? Sukaduka?
Saat harus melatih kesabaran dan harus memahami kepribadian masing-masing dari kolega-kolega.

idol2

Berandai-andai nih…selain dalam bidang masak memasak apakah Chef Marinka juga ingin bekerja dalam bidang lain yang mungkin lebih menantang?
Saya juga ingin menekuni bidang fashion, yang juga saya pelajari semasa kuliah.

Wah, fashion dan cooking, pasti menarik nantinya! Oh ya, Bagaimana Chef Marinka menghadapi “tantangan persaingan” di dunia masak memasak?
Selalu menunjukkan yang terbaik dan selalu berkreasi sehingga dapat memberikan yang terbaik bagi siapapun.

Pernahkah gak sih Chef Marinkamengalami “kegagalan” ? Bagaimana solusinya?
Pernah! Belajar dari kegagalan yang ada dan segera bangkit dari kegagalan tersebut.

Jika berandai-andai, 3-5 tahun ke depan, apa yang Chef Marinka dapat lihat dari diri sendiri?
Bisa membawa nama Indonesia ke jenjang internasional dan berkelas, terutama dalam bidang kuliner.

Trus, bagaimana sih agar kita tetap dapat menjaga nilai-nilai “kekudusan” di tengah-tengah tantangan dunia modern ini?
Dengan mempunyai komunitas yang juga memiliki nilai-nilai “kekudusan’ sehingga dapat saling mendukung dalam menjaga nilai-nilai tersebut.

Bila memiliki waktu luang, hal apa yang biasanya Chef Marinka kerjakan?
Bersama dengan keluarga pastinya, karena keluarga adalah gereja kecil bagi saya, dan tempat saya untuk dapat berbagi.

Menurut Chef Marinka, bagaimana melihat sosok Yesus Kristus dalam hidup ini?
Yesus Kristus adalah sosok yang pengampun dan penyelamat dalam hidup saya. Semua tak ada artinya tanpa kehadiran-Nya

Nah, ini dia, ada gak pesan-pesan Chef Marinka untuk anak-anak remaja (teens) Kristen di Indonesia?
Tetap teguh dalam iman dan selalu berjalan di jalan-Nya. Selalu andalkan Tuhan Yesus dalam segala hal yang ada dalam hidupmu.

Nah, Kerygmers, kalau Chef Marinka saja bisa mengubah sesuatu yang dianggap tidak berharga (bekerja di dapur) menjadi sesuatu yang membanggakan. Kamu pun sebagai anak-anak Tuhan tak perlu malu untuk mengembangkan talenta yang ada dalam dirimu. Kamu pasti bisa!

(Ayik, Medio 2015)

Photo Credit: http://1.bp.blogspot.com

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *