danar-teenz-idol-februari-2014

Karolus Danar Indra Kurniawan: Funky But Holy

danar-teenz-idol-februari-2014

Penampilannya oke, funky…layaknya anak-anak muda masa kini. Suaranya merdu, demikian juga penampilannya di atas panggung sungguh tak mengecewakan.

danar-indra-kurniawan
Karolus Danar Indra Kurniawan, yang akrab disapa Danar Indra, pria kelahiran Kertosono, 5 September 1985 ini, ternyata menyimpan banyak cerita istimewa.

Meski masa kecilnya seakan menjadi sisi gelap dalam hidupnya, Danar Indra mau membagikannya, sebagai bagian proses hidupnya yang luar biasa.

“Aku bukan anak yang diinginkan keluargaku,” ungkap Danar Indra, sedikit mengejutkan. Lantas berceritalah, pria yang sedang menyelesaikan studi S1 jurusan PR Komunikasi ini dengan tegar.

Danar Indra terlahir dari situasi yang tak diinginkan. Kelahiran serta masa kecilnya yang sulit, hingga perlakuan yang tak adil yang didapatkannya dari orangtuanya, sehingga membuatnya merasa sendiri dan down, “Tuhan kenapa aku mendapat perlakuan yang demikian?” tutur Danar Indra.

Saat itulah, urai Danar melanjutkan kisahnya, Opa dan Omanya datang, mengambil dia dalam situasi yang sulit itu. Hingga selanjutnya, Danar hidup dalam gelimangan kasih sayang Opa dan Omanya.

“Mungkin itu bisa jadi sebuah alasan yang tepat, kalau aku mau gagal. Tapi Tuhan mengingatkanku, bahwa orang yang sukses pasti melalui proses. Kalau kamu mau sukses, maka kamu akan melewati proses yang lebih dari biasanya.”

Sejak saat itulah Danar berprinsip dalam hatinya, “Ok, Tuhan, sekarang waktunya aku melihat Tuhan yang membantu aku, karena tidak ada seorangpun di dunia ini yang mengerti aku.” Pemahaman inilah yang dipakai Danar selanjutnya, saat dia kemudian mengikuti ajang pencarian bakat di salah satu TV swasta Indonesia, “Indonesia Idol.”

Bertekad untuk berproses menjadi baik, Danar mulai mencoba mengampuni kesalahan orangtuanya. “Pengampunan ini adalah hal utama. Ortu saya bukan musuh dan saya harus membenci mereka. Seperti halnya kalau saya hendak melakukan sesuatu yang baik, tapi tanpa restu ortu saya, rasanya tidak akan lengkap. Jadi melalui pengampunan, saya berusaha mengampuni mereka. Ternyata proses pengampunan inilah yang menjadi kunci berkat bagi saya,” tegas Danar, yang sering menghabiskan waktunya nongkrong di atap rumah atau tempat yang tinggi, sambil mendengarkan musik, saat tidak ada kegiatan show.

Setelah menjadi manusia baru, Danar menjalani sesuatu yang benar, track yang benar, beda dengan manusia lamanya, yang terkungkung dengan kebencian.

biodata-danar-indra-kurniawan
Meski demikian, terkadang lingkungan kerja dan aktivitas keseharian penuh dengan tawaran dunia yang menjebak, yang tak lagi mengindahkan kekudusan di hadapan Tuhan. Danar bersyukur, ada banyak teman yang menyokong dia serta menjadi teladan dalam hidupnya, untuk senantiasa tertuju pada Kristus.

“Kami bahkan ada slogan bersama, funky but holy, yang artinya bagaimana caranya melalui segala hal, apa yang kami lakukan dan tetap menjaga kekudusan. Ketika kita ada di satu zona yang membahayakan, jangan teruskan! Jangan belagu…kita boleh hidup keren, dandanan keren, tapi kalau kita nggak menjaga kekudusan hidup, itu nggak keren namanya! inilah filosofi anak-anak gerejaku!” tegas Danar, yang belakangan tergabung dalam grup GMBC, yang melakukan banyak pelayanan di berbagai tempat.

Berfilosofi funky but holy, Danar mengajak anak-anak muda untuk senantiasa mengarahkan hidupnya pada Kristus. “Jadilah terang jangan di tempat yang terang, jadilah terang di tempat yang gelap. Artinya, ketika kamu siap untuk dilemparkan atau dilesatkan seperti anak panah, kamu tahu tempatmu di mana. Jangan lagi-lagi kamu panas-panasin bangku gereja, lompat-lompat, happy-happy di dalam gereja saja, sementara di luar sana ada teman-temanmu yang tidak kenal Kristus dan siap terjerumus ke dalam neraka. Pandanglah itu sebagai tantangan, karena kita dipanggil untuk mengabarkan Injil dari samaria ke Yudea dan ke seluruh dunia. Sebagai anak muda kita sering lupa esensi kita sebagai pengikut Kristus,” ucap Danar, yang juga hobi membaca buku di toko buku, sambil mendengarkan musik ini.

Danar kemudian melanjutkan, “Kita punya mobil, harta, tapi itu sebagai titipan. Sebagai anak-anak muda Kristen, kita tidak boleh memikirkan diri sendiri, ada baiknya kita berbagi dengan orang lain. Dunia sekarang kehilangan kepedulian, saatnya kita ambil bagian,” tegasnya, sambil mengakhiri percakapan.

(by: Ayik, 2012)

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *