teenz-idol-1

Still, loving you!

Ari Wibowo

Ari Wibowo

Siang itu Ari Wibowo, tampil santai. Masih seperti saat masih sering tampil di layar kaca, senyumnya mengembang penuh kehangatan. Wajahnya yang ceria menggambarkan semangatnya yang tak padam.

Di gedung baru International English Service (IES), GSJA  Jakarta, Kerygma Teenz bercakap akrab dengan Ari Wibowo, bapak dua anak itu dengan suasana yang hangat. Sesekali terdengar tawa, saat ia mengisahkan hubungannya yang akrab dengan Tuhan Yesus.

Awal mula mengenal Tuhan Yesus, menurut Ari, saat ia duduk di kelas 4 SD, di Jerman. Waktu itu saat pelajaran agama, Ari lebih memilih ke luar kelas dan bermain bersama kawan-kawannya. Mereka bermain di sebuah bukit yang indah.

Tak sadar langkah kaki mereka menuju sebuah gereja katolik. Ari beserta kawan-kawannya tak sadar ikut berdiri dalam antrian warga jemaat, yang saat itu tengah mengikuti komuni (perjamuan kudus). Ari ikut mengambil pembagian roti dan anggur, padahal saat itu ia belum menjadi anak-anak Tuhan. Memakan dan meminumnya lantas larut dalam doa.  Saat membuka kedua kelopak matanya, Ari merasakan sebuah sukacita yang besar. Sayang, pengalaman saat itu, tidak ditindak lanjuti oleh kedua orangtuanya. Menguap begitu saja hingga kepindahannya ke Indonesia.

Sukses di dunia intertaiment, sebagai aktris, foto model, bintang iklan maupun dunia tarik suara, ternyata tak mendatangkan ketentraman bagi Ari.

“Saya sudah dapatkan semuanya; ketenaran, pengakuan, kemewahan, fans…tapi pertanyaannya, apakah hanya ini yang dunia tawarkan? Kok rasanya begitu saja? Ada sesuatu yang kosong bagi saya,” ucap Ari dengan sorot mata yang tajam.

Pertanyaan itulah yang mendorong Ari mengingat kembali kenangan masa kecilnya saat di Jerman. Teringat bahwa manusia tidak hidup hanya dari roti saja. “Saya nggak dapatkan ini karena saya tidak ke gereja, tidak baca Alkitab. Makanya saya mulai ke gereja!” tegas Ari dengan muka serius.

Ketetapan hati Ari untuk mau mengenal dan menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat pribadinya, juga dipengaruhi pengalaman hidup mati. Tiga kali Ari mengalami kecelakaan (di Paris, Jerman dan Jakarta), saat ia dalam keadaan tidur dan mobil dikendarai sopir. Bahkan terakhir kejadian, kecelakaan itu telah menghancurkan siku tangannya. Menurut tim ahli bedah tulang, siku tangannya sudah remuk dan tak bisa diperbaiki. Kalaupun bisa diperbaiki, kondisinya jadi permanen tak bisa digerakkan. “Kalau siku saya sekarang bisa digerakkan, ini adalah mukjizat Tuhan!” tegas Ari sambil menunjukkan siku tangannya yang telah pulih sekarang.

Pengalaman pribadi Ari lainnya, yang makin menguatkannya untuk menjadi bagian anak-anak Tuhan Yesus adalah saat ia sudah menjadi Kristen tapi masih kristen KTP. Waktu itu masih sangat pagi, sekitar jam tiga pagi, ketika sebuah suara yang penuh otoritas membangunkan Ari dari tidur dan berkata, “Amsal 1:7!”

“Saya nggak tahu Amsal, karena Alkitab yang saya pegang berbahasa Inggris. Tapi saya tak mengerti, mengapa Tuhan juga gak bilang Provebs. Saya gak tahu, jadi saya tidur lagi. Esok paginya jam 7, akhirnya saya buka Alkitab berbahasa Indonesia.”

Masih di tengah rasa gundah antara tak percaya dengan suara Tuhan, Ari membaca Amsal 1:7 “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”

“Dari 31.173 ayat Alkitab, kenapa Tuhan ingatkan saya dari Amsal 1:7 dan mengapa juga bilangnya Amsal, bukan Proverbs?” pertanyaan inilah yang kemudian mendorong Ari untuk sungguh-sungguh belajar dan membaca Alkitab dari Kejadian hingga Wahyu.

“Aku orangnya sangat logis. Kenapa Tuhan bicaranya pakai Bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris? Mungkin akan jadi pertanyaan buat saya, ini sungguh-sungguh dari Tuhan atau flashback masa kecil. Tapi aku dengar Tuhan bilang Amsal, kata yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Ini yang meyakinkan saya!” ucap Ari tanpa keraguan.

Pertobatan Ari di puncak popularitas tentu saja mengundang pro dan kontra dari keluarga besarnya. “Ri, kamu mau terima Tuhan Yesus gak apa-apa. Tapi jangan buka-bukaan. Soalnya kamu kan sudah di kenal banyak orang!” cerita Ari tentang tuntutan anggota keluarganya.

Next Idol - Tracy Trinita

Next Idol – Tracy Trinita

Next Idol - Marcello Tahitoe (Ello)

Next Idol – Tracy Trinita

Next Idol - Cecilia Dwi Hapsari

Next Idol – Cecilia Dwi Hapsari

Next Idol - Bobby Febian

Next Idol – Bobby Febian

Next Idol - Imelda Fransisca

Next Idol – Imelda Fransisca

Meski menerima banyak tantangan, tak menyurutkan langkah Ari untuk menjadi anak Tuhan, mesti harus mengambil konsekuensi berat. “Kalau mereka yang nge-fans ke aku selama ini berubah karena agamaku, berarti yang dilihat mereka selama ini apa?
Acting, penampilan atau agamaku? Agama itu sifatnya pribadi. Agama adalah agamaku, bukan urusan orang lain. Jadi saya bilang gak peduli kalau saya gak sukses atau terkenal lagi,” tegas Ari.

Akhirnya suami dari Inge Anugrah ini meyakinkan hatinya untuk lebih mengasihi Tuhan Yesus dengan mengambil pelayanan di IES, Jakarta. Kesaksian serta pelayanannya menguatkan banyak orang. Ari meyakini bahwa ketika ia menerima Tuhan Yesus ia mulai membayar perpuluhan. Ketika ia menjadi orang kristen, ia pun membayar pajak. Saat ia mulai melakukan semuanya itu, penghasilannya jauh lebih tinggi.

Ari yang tengah membuka perusahaan Virtue Enhancement Center, semacam kursus kepribadian, sejak pertengahan tahun 2009, berpesan bagi Kerygmerz, “Bacalah Alkitab secara teratur. Simple dan membosankan. Tapi, perubahan drastis terjadi dalam hidup saya saat membaca Alkitab secara rutin setiap hari. Membaca Alkitab bukan permintaan pendeta juga diri sendiri, tapi apa yang diminta Tuhan (Ams.1:7)!”

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *