teenz-idol-29-adika-priatama-everyday-is-a-blessing

Adika Priatama: Everyday is a Blessing

teenz-idol-29-adika-priatama-everyday-is-a-blessing

Menjumpai Adika Priatama, yang akrab disapa dengan Adika, memang tidak mudah. Jarak Sydney – Indonesia dan benturan kesibukan yang lain, tak ayal membuat jadwal sering meleset. Setelah berulangkali membuat janji temu, akhirnya Kerygma Teenz bisa juga berbincang-bincang dengannya. Berikut percakapan dengan Adika, jebolan Indonesia Idol, yang saat ini juga tengah disibukkan dengan promo singelnya.

adika-priatama.jpg
Kerygma Teenz (KT): Apa saja sih, kesibukan Dika sekarang? Siapa yang paling mendorong Dika untuk tetap maju selama ini (pengalaman di Idol 1, dunia intertaiment)?
Dika: Pada saat ini sebagai karyawan fulltime, keseharian saya disibukkan dengan pekerjaan yang menuntut saya untuk berada di tempat kerja 6-7 jam setiap hari. Waktu luang saya pergunakan semaksimal mungkin untuk mengelola usaha saya di bidang lain, pelayanan gereja dan sebisa mungkin tetap berlatih vokal. Tawaran untuk bernyanyi terkadang datang dalam bentuk acara-acara perkawinan, undangan dari konsulat RI, dsb., yang mana lebih bersifat pribadi dan bukan untuk tujuan komersil.
Sosok yang paling mendorong saya untuk tetap maju, berganti seiring waktu. Saya ingat figur artis Amerika, Brian Mc Knight dan Michael Buble sering menjadi inspirasi, saat saya berkompetisi di Indonesian Idol 1. Namun seiring perkembangan mental dan spiritual, saya berusaha selalu melihat Tuhan Yesus sebagai sumber inspirasi saya.

KT: Sebenarnya mana yang lebih berkesan bagi Dika, tinggal dan menetap di Indonesia atau Sydney? Apa alasannya?
Dika: Kedua negara memiliki kesan yang berbeda, namun keduanya memberikan pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan saya. Lahir di Indonesia merupakan berkat Tuhan, dimana tidak setiap orang mendapatkan “privilege” tersebut. Menjadi manusia Indonesia merupakan keunikan yang Tuhan berikan dan menjadi salah satu identitas dan kebanggaan saya pribadi. Menetap di Australia menjadi salah satu opsi yang saya ambil untuk belajar lebih jauh mengenai kultur budaya asing, komunikasi dan nilai moral masyarakat yang berbeda.

KT: Wah, memang masih ada harapan/impian Dika yang belum tercapai hingga saat ini?

Dika: Harapan saya adalah suatu saat bisa merilis sebuah album, dimana melalui album tersebut saya bisa memberkati masyarakat Indonesia. Saya rindu bisa bekerjasama dengan talenta-talenta muda Indonesia yang cinta Tuhan dan melihat musik sebagai instrumen yang bisa merubah paradigma masyarakat Indonesia. Konsep dan mimpi ini begitu massive, dimana terkadang saya berfikir ini adalah suatu hal yang mustahil. Namun tidak ada yang mustahil bagi Tuhan :)

adika-priatama.jpg
KT: Wah, senang ya, kalau bisa memberkati banyak orang. Eh, Dika, punya tokoh idola gak? Siapa? Dan mengapa sih, mengidolakan mereka?
Dika: Idola saya,….Martin Luther King, Jr. Sosok Martin Luther begitu memberikan inspirasi, dimana berawal dari sosok anak kecil yang ikut serta dalam koor gereja, ia hidup sederhana, hingga menyandang gelar pastor. Menikah di halaman rumah, kemudian memberikan kontribusi yang luar biasa dalam kegiatan-kegiatan aktivis untuk membela hak asasi manusia. Ia ditembak mati, namun kontribusinya menjadi catatan sejarah yang tak akan terlupakan.
Idola saya yang lain adalah, M. Buble Artis penyanyi Hollywood, yang menurut saya paling sukses mempopulerkan aliran musik jazz/swing di era/generasi saya.

KT: Dika, bagaimana sih menjadi jawaban generasi muda lewat musik itu? Apa saja tantangan terberatnya?
Dika: Musik dapat menjadi instrumen yang kuat dalam memotivasi seseorang ke arah yang lebih baik. Pesan-pesan yang membangun bisa disampaikan melalui lagu dan komunikasi terhadap audience, namun hal yang terpenting untuk menarik pendengar adalah bagaimana menciptakan musik yang berkualitas, tentunya dengan musisi, talenta, produser, tim management, dsb., yg juga berkualitas. Tantangan terberat adalah komitmen dari setiap individu dalam tim untuk melihat project ini secara jangka panjang, bukan hanya untuk tujuan komersil. Terkadang tuntutan pribadi menjadi hambatan, dan tanpa visi yang sama hal tersebut sering menjadi kendala.

KT: Wah, ternyata berat juga ya. Ohya, boleh gak diceritakan sedikit pengalaman masa kecil Dika yang paling berkesan? Dika ini anak keberapa dari berapa bersaudara? Apa hoby yang paling menonjol sejak kanak-kanak?
Dika: Saya anak bungsu dari dua bersaudara. Pengalaman yang paling berkesan adalah sewaktu ayah saya ditugaskan di kota Roma, Italia, selama 4 tahun, dimana kami sekeluarga ikut mendampingi ayah. Saya menyelesaikan grade 12 -selevel dengan SMP kelas 3 di sana. Pada saat berada di Italia, saya banyak melihat bangunan, gereja, dan karya bersejarah lainnya, dimana Tuhan menjadi sumber inspirasi para artis di zaman itu. Dengan hobby sepak bola, liga Italia menjadi tontonan rutin, disamping mengoleksikan ornamen-ornamen dari tim favorit saya Lazio :) he he he…

KT: Waduh, berarti sejak kecil, Dika ini udah hampir keliling dunia ya… Tahun ini/depan, ada gak rencana mau buat album? Semisal “iya” album yang bagaimana yang ingin kamu wujudkan?
Dika: Belum ada rencana sih, namun saya akan selalu siap jika kesempatan itu akan datang. Album yang ada di benak saya adalah album dengan genre musik yang belum begitu digali di pasar musik Indonesia, namun bisa menjadi break trough untuk belantika musik Indonesia. Mungkin perkawinan musik tradisional dengan iringan jazz, dipadukan dengan aransemen modern dan vokal pop.

KT: Nah, pertanyaan selanjutnya adalah, pernah gak sih, Dika mengalami “kegagalan”? Bagaimana solusinya?
Dika: Pastinya sering dong, namun kegagalan hanyalah kesuksesan yang tertunda. Solusinya adalah mengoreksi diri sendiri, introspeksi, serta takut akan Tuhan dan percaya bahwa Rencana-Nya adalah yang terbaik untuk kita.

KT: Jika berandai-andai, 3 – 5 tahun ke depan, apa yang Dika dapat lihat dari diri sendiri?
Dika: Wah, saya tidak suka berandai-andai. Everyday is a blessing :)

KT: Bagaimanakah seorang Dika menjaga nilai-nilai “kekudusan” di tengah-tengah tantangan dunia modern ini (dunia intertaiment)?
Dika: Hubungan pribadi saya dengan Tuhan merupakan prioritas utama, disamping itu kita juga harus saling membangun karakter dari teman-teman sekeliling kita.

KT: Nah, trus, kalau selama ini Dika sudah mengamat-amati perkembangan musik di tanah air, apa harapan Dika?
Dika: Harapan saya supaya musik-musik kultur dan tradisional bisa lebih digali lagi. Musik memiliki nilai sejarah yang begitu hebat. Jika melihat penyanyi-penyanyi tenor di Italia, atau penyanyi jazz kulit hitam di Amerika, kecintaan akan latar belakang komunitas mereka, menjadi sesuatu hal yang luar biasa. Konsep perpaduan musik-musik tersebut dengan musik modern, menjadi tantangan bagi musisi dalam negeri untuk menarik pendengar-pendengan yang “berkualitas.”

KT: Nah, kalau sedang punya waktu luang, hal apa yang biasanya Dika kerjakan? bersama keluarga, pasangan atau …?
Dika: Waktu luang biasa saya luangkan untuk bersantai dengan keluarga atau mendengarkan musik-musik favorit saya.

KT: Ohya, Dika, bagaimana kamu melihat sosok Yesus Kristus dalam hidupmu?
Dika: Dia adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Saya tidak akan dapat mengenal Bapa di Sorga jika tidak melalui Dia yang menebus dosa-dosa saya. (Ternyata Dika cinta banget sama Tuhan Yesus, lho…)

adika-pratama-2
KT: Pernah gak Dika memiliki impian untuk mengembangkan musik gerejani? Jika “iya” apa yang kamu impikan?
Dika: Saya merindukan bisa bekerjasama dengan teman-teman yang memiliki visi yang sama dalam mengembangkan musik-musik asli karya anak-anak Indonesia, yang pada akhirnya bisa menjadi alat, sehingga mereka bisa merasakan hadirat dan kuasa Tuhan, melalui pujian dan pengagungan.

KT: Wah, impian yang bagus banget…! Apakah suatu saat kamu akan kembali ke Indonesia? menikah di sini atau mengembangkan bisnis di sini?
Dika: Ya, saya cinta Indonesia :)

KT: Trus, kalau sekarang Dika tinggal di Sydney, apakah Australia juga menjadi sebuah tantangan untuk mengembangkan karier?
Dika: Ya, Australia memiliki standar yang berbeda dan menjadi tantangan tersendiri dalam berkarir. Dari sisi musik, Australia sebagai negara yang multikultur, selalu menjadi wadah yang memiliki potensi untuk mengeksplorasikan musik Indonesia di skala international. Untuk saat ini saya lebih memilih fokus dalam skala nasional.

KT: OK, ada gak pesan-pesanmu untuk Kerygmers di Indonesia?
Dika: Semua kehidupan adalah proses interrelasi, yang tanpa disadari, kita terperangkap dalam jaringan tersebut. Jaringan yang bersifat saling mendukung dan terjalin seperti kain tenunan yang sering kita katakan semua itu adalah takdir Tuhan. Apapun yang memberikan dampak bagi seseorang akan memberikan dampak bagi sekelilingnya secara tidak langsung, dengan alasan yang tidak selalu jelas. Seseorang tidak akan pernah bisa menjadi apa yang dia cita-citakan sampai kamu belum menjadi apa yang kamu cita-citakan! Jadilah garam dan terang dunia supaya sekelilingmu bisa menjadi hal yang sama!

Wah, terimakasih Dika…telah meluangkan waktu bersama kami. Tuhan berkati karyamu!

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *