email-corner-februari-2016

TELINGA

“Bisakah aku melihat bayiku?” seorang ibu yang baru saja melahirkan, bertanya pada perawatnya. Saat bayi yang telah dibalut kain itu berada dalam dekapannya, dan ia membuka lipatan kain untuk melihat wajah mungil di dalamnya, ia tersentak. Dokter pun memalingkan wajahnya memandang ke luar melalui jendela rumah sakit yang agak tinggi. Bayi itu dilahirkan tanpa daun telinga. Dan waktu pun membuktikan pendengarannya tetap normal, hanya saja rupa wajahnya tampak tidak lengkap.

Beberapa tahun kemudian,…

Suatu hari, ia menghambur ke rumah seusai pulang sekolah, berlari dan memeluk ibunya. Ibunya menghela nafas karena ia tahu hidup anaknya pasti dipenuhi dengan serangkaian kekecewaan.

Ia membeberkan peristiwa yang menimpanya kali ini. “Ibu, teman lelakiku yang berbadan besar… mengolokku dengan sebutan sinting.”

Anak itu tumbuh besar dan cukup tampan, dalam ketidakberuntungannya. Ia menjadi disukai teman sebayanya dan mungkin juga menjadi ketua siswa, oleh karena hal itu. Ia juga pintar dan berbakat dalam musik dan sastra. “Kau juga harus bergaul dengan mereka,” ibunya menegurnya, namun dengan kasih mendalam di hatinya.

Ayahnya menemui dokter keluarga dan bertanya apakah tidak ada yang dapat dilakukan. “Saya yakin kalau saja ada pendonor telinga maka transplantasi dengan prosedur bisa dilakukan,” jelas dokter. Maka mulailah mereka mencari pendonor telinga untuk anak muda ini. Dua tahun berlalu.

Kemudian, “Kamu perlu ke rumah sakit, Nak. Aku dan Ibumu sudah mendapat pendonor telinga untukmu. Tapi ini dirahasiakan,” kata Ayahnya. Singkat cerita operasi pun berjalan lancar, dan hadirlah anak muda dengan rupa baru. Bakatnya meningkat drastis, sekolah dan kuliahnya pun menjadi perjalanan kemenangan. Dan ia pun menikah dan masuk sebagai dewan dalam pemerintahan.

“Tapi aku ingin tahu!” Ia mendesak ayahnya, “Siapa yang sudah rela memberikannya bagiku? Aku tak kan pernah bisa membalas budi padanya.”

“Aku tidak percaya kamu tidak bisa,” jawab Ayahnya, “tapi kesepakatannya kamu tidak boleh tahu… belum.”

Tahun-tahun berlalu dan rahasia tetap terjaga, namun saatnya telah tiba… saat paling gelap dalam kehidupan harus dihadapinya. Ia sedang berdiri di samping peti jenazah ibunya. Perlahan dengan lembut sang ayah mengulurkan tangannya dan menyibak rambut coklat kemerahan ibunya yang tebal, untuk mengungkapkan bahwa ibunya—tidak punya daun telinga.

“Ibumu bilang ia sangat senang untuk tidak memangkas rambutnya,” ia berbisik lirih, “dan tak seorang pun pernah menganggapnya kurang cantik, ya kan?”

Kecantikan yang sebenarnya bukan tentang penampilan fisik, tapi tentang hatinya. Harta yang sesungguhnya bukanlah tentang apa yang bisa dilihat, namun pada sesuatu yang tak terlihat. Cinta sejati bukanlah sesuatu yang telah dilakukan dan dilihat orang, melainkan sesuatu yang dilakukan dan tidak terlihat.

(http://www.rogerknapp.com/inspire/ears.htm)

Photo Credit: https://tommymt.files.wordpress.com

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *