sang-maestro-email-corner-april-2014

Sang Maestro

sang-maestro-email-corner-april-2014

Suatu hari, di depan gerbang sebuah jembatan, di salah satu kota di Eropa, berdiri seorang yang buta. Untuk mencari nafkah setiap hari, dia berdiri di situ sambil memainkan biola tuanya. Di hadapannya diletakkannya sebuah kaleng kosong, tempat orang-orang yang lewat menaruh uang recehan.

Suatu hari, lewat seorang yang berpakaian rapi dengan jubah panjang. Dari kejauhan dia memperhatikan permainan orang buta itu, dan ketika sudah dekat dia menyadari kalau kaleng uang orang buta itu hampir tidak berisi sama sekali. Akhirnya dia mendekati orang buta itu untuk meminjam biolanya,

“Maaf Pak, bolehkah saya meminjam biola Bapak? Izinkan saya memainkan sebuah lagu…” katanya dengan ramah. Orang buta itu sedikit terkejut, tapi mendengarkan nada bicara yang ramah dari orang yang berbicara kepadanya, dia menjawab dengan tersenyum, “Wah, maaf Tuan, tidak biasa. Saya tidak mengenal Anda. Lagipula biola ini harta satu-satunya milik saya dan saya pergunakan untuk mencari nafkah.”
“Saya mengerti, saya berjanji tidak akan merusak biola Anda, percayalah…”

Orang buta itu pun akhirnya menyerahkan biolanya dengan ragu-ragu. Tapi keragu-raguannya berubah menjadi kekaguman yang luar biasa, ketika orang berjubah panjang itu mulai memainkan biola tua miliknya. Nada-nada yang sangat merdu mulai terdengar memenuhi gerbang jembatan itu. Orang-orang yang lewat mulai mengerumuni mereka berdua. Ada keheningan yang tercipta ketika semua orang yang lewat berhenti untuk mendengarkan suara musik yang luar biasa itu.

Orang buta itu memandang dengan takjub, dia sendiri tidak tahu kalau biola tuanya bisa mengeluarkan suara semerdu itu! Kaleng uangnya sekarang tidak lagi kosong. Banyak uang yang berserakkan di dekat kaleng uangnya, karena tidak ada lagi ruang kosong.

Setelah beberapa saat, orang berjubah panjang itu akhirnya menghentikan permainannya. Dia mengucapkan terimakasih kepada kerumunan, kemudian mengembalikan biola itu kepada orang buta itu. “Terimakasih, sekarang saya harus pergi.” Dengan penuh rasa terima kasih, orang buta itu berkata, “Terimakasih kembali Tuan. Bolehkah saya tahu siapa nama Anda?” Orang berjubah panjang itu tersenyum, dia berkata pelan sambil melangkah pergi, “Paganini.”

Sesungguhnya kita tidak akan pernah mengetahui seberapa hebat hidup kita bisa diubahkan, sampai kita menyerahkannya kedalam tangan Sang Maestro Agung, Yesus Kristus. Kita tidak akan pernah mengetahui perkara-perkara hebat yang bisa terjadi dalam hidup kita, sampai kita mengijinkan Dia memegang hidup kita dalam tangan-Nya. Jangan ragu mempercayakan hidup kepada-Nya, Dia tahu persis apa yang sedang Dia lakukan.

*Nicolo Paganini adalah maestro biola dari Genoa, Italy.
(Thanks to Claudia Hey Chayil at Group KRISTEN SEJATI)

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *