email-corner-pohon-pir

Pohon Pir

email-corner-pohon-pir

Seorang Ayah bermaksud mengajarkan kepada empat orang anaknya, bagaimana hidup yang senantiasa berharap kepada Tuhan. Pelajaran ini panjang, sang Ayah membutuhkan waktu setahun untuk menyelesaikannya. Tapi ketika pelajaran itu berakhir, keempat anaknya tidak pernah melupakan hal itu.

Keluarga mereka hidup di dekat sebuah hutan. Di kedalaman hutan itu, tumbuh sebuah pohon Pir yang besar. Pada suatu hari di musim dingin, sang Ayah meminta anaknya yang pertama, untuk pergi dan melihat keadaan pohon itu. “Ayah menanam pohon itu, ketika Ayah seumuran kalian. Ayah ingin tahu bagaimana keadaanya sekarang…” ucap Ayahnya.

Anak pertama itu pergi dan kembali dari hutan dengan kecewa, “Pohon itu jelek Ayah, batangnya bengkok, gundul dan tidak berbuah…” ucap anak pertama dengan kesal.

Suatu hari di musim semi, sang Ayah meminta anaknya yang kedua untuk pergi dan melihat keadaan pohon yang sama. Anak kedua kembali dengan bingung, “Mungkin Kakak melihat pohon yang salah waktu itu. Pohon yang kulihat justru penuh dengan kuncup-kuncup hijau yang menjanjikan!”

Suatu hari di musim panas, sang Ayah kembali meminta anaknya yang ke tiga untuk pergi, dia kembali dengan wajah berseri-seri. “Pohon itu dipenuhi dengan bunga-bunga indah, yang menyebarkan bau harum!”

Pada akhirnya, ketika musim gugur tiba, sang Ayah meminta si bungsu untuk pergi. Dia kembali dengan senyum dan tawa, sambil membawa sebuah kantong berisi penuh buah Pir. “Kakak-kakakku pasti telah melihat pohon yang salah. Pohon yang kulihat penuh dengan buah yang matang dan ranum ini!”

Kemudian mereka duduk bersama sambil menikmati buah Pir itu, ketika sang Ayah berkata, “Kalian semua melihat pohon yang sama. Hanya saja kalian melihatnya di musim yang berbeda. Jadi mulai sekarang, jangan pernah menilai kehidupan dari satu masa sulit. Tuhan adil, dan karena keadilan-Nya Dia menciptakan segala sesuatu pada musim mereka masing-masing…”

Akan ada waktu-waktu ketika kita mengalami masa-masa sulit. Waktu-waktu ketika kita merasa gagal dan kecewa. Mungkin karena kesalahan kita sendiri, atau mungkin karena kejahatan orang lain. Tapi bukankah ketika musim dingin tiba, artinya musim semi akan datang sesudahnya?

Jangan menjadi kecewa karena satu musim kehidupan. Kerjakan saja bagian kita, dan percayalah Tuhan Yesus akan mengerjakan bagian-Nya. Ketika Tuhan menciptakan badai, diciptakan-Nya juga pelangi yang datang sesudahnya. “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” (Pkh. 3:11)

(Special thanks to Vincent Chua at Group Kasih-MU Tiada Duanya)

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *