email-corner-november-2015

PEMELIHARAAN TUHAN

Telah dua musim hujan berlalu, sehingga di mana-mana tampak pepohonan menghijau. Kelihatan seekor ulat di antara dedaunan yang menghijau, bergoyang-goyang diterpa angin.

“Apa kabar pohon hijau,” kata ulat tersebut.

Tersentak pohon hijau menoleh ke arah datangnya suara. “Ohh,…kamu ulat, mengapa badanmu kelihatan kurus dan kecil?” tanya pohon hijau.

“Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku. Maukah engkau membantuku sahabat ?” kata ulat kecil lagi.

“Tentu….tentu, dekatlah ke mari,” pohon hijau berpikir jika ia memberikan sedikit dari daun-daunnya untuk makanan si ulat, ia akan tetap hijau . Hanya saja ia akan kelihatan berlubang-lubang…tapi tak apalah.

Perlahan-lahan ulat itu pun menggerakkan tubuhnya menuju daun-daunan hijau di pohon itu dan mulai makan. Setelah makan dengan kenyang, ulat itu pun pergi sambil mengucapkan terima kasih. Sekali pun dedaunan yang dimiliki pohon hijau itu tak lagi mulus, ada banyak lubang di sana sini, namun ia bahagia dapat melakukan sesuatu bagi ulat kecil yang kelaparan itu.

Tidak lama berselang ketika musim panas datang dan bergantian dengan musim yang lain lagi,…dedaunan di pohon hijau yang berlubang-lubang karena dimakan ulat, mengering, berubah warna dan akhirnya jatuh ke tanah. Sementara itu di pucuk-pucuk ranting mulai bertumbuh daun-daun hijau yang baru, dan lebih segar dan indah.

Apakah yang berarti dalam kehidupan kita sehingga sering kali kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama ? Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi orang lain memang tidak mudah, tetapi indah. Ketika berkorban diri kita sendiri menjadi seperti daun hijau yang berlubang namun sebenarnya itu tidak mempengaruhi kehidupan kita. Kita akan tetap hijau …Tuhan akan tetap memberkati dan memelihara kita .

Photo Credit: https://upload.wikimedia.org

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *