email-corner-juni-2015

MULAI SAAT INI HILANGKAN MURUNGMU

Seorang guru menghampiri seorang muridnya, ketika jam pelajaran selesai. Belakangan ini wajah nya selalu nampak murung. “Kenapa kamu selalu murung Nak? Bukankah banyak hal yang indah didunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang guru bertanya.

“Pak,… belakangan ini hidupku penuh dengan masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang silih berganti seperti tak ada habisnya…” jawabnya.

Sang guru terkekeh. “Nak, ambillah segelas air dan dua genggam garam. Bawalah ke mari, biar ku perbaiki suasana hatimu.” Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia kembali lagi dengan membawa apa yang diminta gurunya.

“Coba ambil segenggam garam dan masukan ke dalam gelas berisi air itu…” kata gurunya. “Setelah itu coba kamu minum airnya sedikit.” Si murid pun melakukannya. Wajahnya pun kini meringis karena meminum air asin. “Bagaimana rasanya?” tanya sang guru lagi.

“Asin dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis. Sang guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan. “Sekarang ikutlah aku…” Sang guru membawa muridnya ke danau, di dekat tempat mereka. “Ambillah garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”

Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ingin rasanya ia meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan guru, begitu pikirnya.

“Sekarang kamu coba minum air danau itu…” kata sang guru sambil mencari batu yang cukup datar, untuk didudukinya, tepat dipinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, membawanya ke mulutnya, lalu meneguknya. “Bagai mana rasanya..?” tanya gurunya lagi. “Segar, segar sekali…” kata si murid, sambil mengelap mulutnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya. “Terasakah rasa garam yang kamu tebarkan tadi..?”

“Tidak sama sekali!” kata si murid, sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas. “Nak, segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang kamu alami sepanjang kehidupanmu itu, sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlah tetap, segitu-gitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia pun demikian. Tidak ada satupun manusia, walaupun dia seorang nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam, mendengarkan. “Tapi, Nak, rasa asin dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya kesabaran hati yang menampungnya. Jadi, supaya tidak merasa menderita, berhentilah menjadi gelas. Jadikan kesabaran hati dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”

Janganlah berpikiran pendek dan sempit, karena kita mempunyai dua mata juga otak untuk berpandangan luas. Hati yang penuh dengan kesabaran. Pandanglah ke depan seluas samudera. Maka, masalah yang Anda hadapi akan terasa lebih ringan dan mudah. Sekali lagi, janganlah menjadi gelas. Semangatlah hari ini!

Photo Credit: https://encrypted-tbn2.gstatic.com

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *