email-corner-april-2015-dua-buah-kutub

DUA BUAH KUTUB

Saat kembali ke kota kelahiran, saya menyempatkan diri untuk berjumpa dengan beberapa kawan lama, di antaranya adalah dua bersaudara yang salah satunya berada di panti rehabilitasi Narkoba, sedangkan saudara lainnya adalah seorang pengusaha otomotif yang terbilang sukses.

Di antara kawan-kawan seumur, hal ini sering menjadi bahan pergunjingan mengapa dua bersaudara yang berasal dari orang-tua yang sama, dibesarkan dalam lingkungan yang sama, dapat menjadi sangat berbeda.

Kunjungan saya ke panti rehabilitasi dimana kawan saya itu berada cukup membuat dia terhibur. Dalam salah satu perbincangan dia menjawab pertanyaan klise saya, “Ya, semua ini gara-gara ayah saya.”

Dengan lirih dia meneruskan ucapannya, “Ayah saya seorang pemabuk dan penjudi, keluarga saya bangkrut dan berantakan. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri, sama sekali tak pernah memikirkan saya.” Masih tertunduk lesu dan katanya lagi, “Apa yang bisa diharapkan dari saya, hasil dari sebuah keluarga yang berantakan ini?”

Sehari sebelum kembali ke Jakarta, saya masih sempat menemui saudaranya, yang siang itu berada di show-room-nya yang cukup besar dengan aneka mobil terpajang.

Di tengah kegembiraan karena lama tidak berjumpa, salah satu pembicaraan kami adalah tentang saudaranya yang ada di panti rehabilitasi Narkoba. Pertanyaan spontan pun mengalir dari bibir saya, “Apa yang membuat kamu berbeda dengan saudaramu dan bisa sukses seperti sekarang ini?”

Nampak dia menghela nafas kemudian berkata, “Sudah terlalu banyak penderitaan dalam kehidupan saya dan keluarga kami. Saya hanya bertekad untuk mengakhirinya. Saya benar-benar tidak ingin bernasib seperti ayah saya dan ingin membahagiakan Ibuku, itulah tekad saya selama ini.”

Keduanya mendapatkan kekuatan dan motivasi dari sumber yang sama, bedanya adalah yang seorang memanfaatkannya secara positif, dan seorang lainnya menggunakannya secara negatif. Mereka yang positif tak peduli segelap apapun keadaannya, kepalanya selalu tegak serta menengadah melihat semua kemungkinan dan semua itu ada di hadapannya.

(from: enil hudayantigloria esghudayanti@yahoo.com)

Photo Credit: Lulumière via Compfight cc

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *