email-corner-juli-2016

BUKAN MILIKKU LAGI

“Sekian lama aku menyimpan kisahku ini, sudah saatnya aku membagikannya untuk kalian, untuk mengingat, betapa berharganya nyawamu setelah diselamatkan-Nya.”

Saat itu aku berusia 13 tahun, ketika orang-orang Jerman menyerbu negara kami. Kami, penduduk asli, dengan bangga dan berani melawan mereka. Kota di mana aku tinggal, banyak pria-pria dewasa dan remaja laki-laki dikumpulkan dan menghancurkan pembangkit tenaga listrik, yang digunakan tentara-tentara Jerman. Namun kami semua tahu bahwa rencana ini seperti bumerang bagi kami, karena pembangkit listrik itu juga merupakan sumber kehidupan penduduk sekitar. Selain itu, kami harus merelakan penganiayaan yang timbul dari tentara Nazi.

Pagi berikutnya, sebelum fajar menyingsing, serombongan tentara memasuki kota dengan truk. Terdengarlah deru sepatu mereka di jalan-jalan. Seluruh pria dewasa dan remaja lelaki yang berumur 12 tahun ke atas digiring ke alun-alun kota. Aku termasuk dalam barisan ini. Kali itu terasa masih terlalu pagi benar. Akupun berdiri dengan mata yang masih berat, sebab rasa kantuk yang luar biasa.

Pemimpin pasukan Nazi berdiri di depan kami dan menceramahi bahwa usaha kami melawan mereka adalah sia-sia belaka. Ia berkata bahwa kami adalah sampah, dan usaha kami tidak akan menggagalkan perang. Sebaliknya pemberontakan kami akan menyengsarakan kami sendiri. Lalu ia meneriakkan bahwa setiap lelaki yang berdiri pada urutan ke-20 di setiap barisan akan ditembak mati.

Sementara setiap pria yang berada di urutan ke-20 maju, aku melirik dan menghitung urutanku dari tempat aku berdiri. Oh, tidak, aku urutan ke-20. Seraya tanganku gemetar dan keringat dingin mengucur dari tubuhku. Akupun mulai cemas. Sungguh, aku ingin melarikan diri, namun kakiku seperti tertancap paku besar sehingga tak mampu bergerak. Aku ketakutan setengah mati rasanya. Aku tahu jika aku mencoba melarikan diri, tentara yang ada dalam truk mampu melumpuhkanku dengan senapan panjangnya sebelum aku berhasil melangkahkan kakiku 10 meter dari tempat aku berdiri.

Sebelum giliranku untuk maju tiba (sedang tentara Jerman tertuju pada orang urutan ke-20 sebelum aku), aku merasakan bahuku dipegang dengan kencang. Sebelum aku sempat menoleh untuk menyadari apa yang terjadi, bapak yang berada tepat di sebelahku ia mendorongku ke tempatnya dan menukar posisi kami secepat kilat.

Aku melongo ke arah pria tua berambut putih itu dan ia tersenyum padaku. Sebelum ia digiring maju untuk dieksekusi, ia membisikkan satu kalimat kepadaku, “Hidupmu bukanlah milikmu lagi. Hiduplah demi kita berdua.”

Aku menatap membisu sementara bapak tua itu digiring menghilang di ujung gang. Hatiku melonjak saat suara tembakan meletup di udara, tembakan yang seharusnya melayang ke badanku. Saat itu juga, tak sadar air mataku meleleh di wajahku dan berjanji untuk hidup bukan untuk diriku sendiri, tapi demi kami berdua. Sejak hari itu, aku terus hidup supaya pengorbanan pria tua yang tak kukenal ini, tidak menjadi sia-sia, dan jasanya terbalaskan.”

(Dari Austria, 1938, Kakek Andrew, sumber internet)

Photo Credit: http://www.thewarriorwash.com

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *