email-corner-agustus-2016

BACALAH SAAT KAMU SENDIRIAN

Ini terjadi ketika aku berusia 13 tahun. Keluargaku pindah dari Florida Utara ke California Selatan, setahun sebelumnya. Itu membuat masa remajaku penuh dengan amarah. Aku sering mengamuk dan memberontak. Aku cuek dengan apa yang dikatakan orang-tuaku, terutama jika itu menyangkut aku. Seperti remaja normal, aku pasti lari jika yang terjadi tak sesuai dengan yang kuharapkan. Aku anak yang “pintar dan tak butuh bimbingan”, aku anti kasih. Jujur saja, aku langsung marah mendengar kata kasih, cinta atau sayang.

Suatu malam, setelah melalui hari yang sulit, aku menghambur ke kamarku, membanting pintu dan naik ke atas kasur. Saat aku membaringkan diri untuk meregang otot, kuselipkan tanganku ke bawah bantal. Aku menemukan sepucuk surat. Segera kutarik ke luar isinya dan tertera di amplopnya, “Bacalah saat kamu sendirian.”

Karena saat itu aku sedang sendiri, dan tak ada seorang pun yang tahu kalau pun kubaca, jadi aku membukanya. Di situ tertulis, “Mike, aku tahu hidupmu sangat sulit sekarang. Aku tahu kau frustrasi, dan kita telah banyak salahpaham. Aku juga sadar kalau aku sangat mengasihimu dan apapun yang kau katakan atau perbuat itu tak akan mengubahnya. Aku selalu di sini kalau kau ingin bercerita, atau kalau tidak juga, tak apa-apa. Yang penting, ketahuilah bahwa ke manapun kau pergi atau apapun yang kau lakukan nanti, aku akan selalu cinta kamu dan bangga padamu, anakku. Aku di sini untukmu dan aku menyayangimu, titik. Itu tak kan pernah berubah. Dengan kasih, Mama.”

Itu adalah tahun pertama dari tahun-tahun bersurat “Bacalah saat kamu sendirian.” Ini tidak pernah kusebut sampai aku dewasa.

Sekarang, aku berkunjung ke seluruh dunia untuk melayani orang-orang. Dan saat aku selesai mengajar seminar di Sarasota, Florida, seorang wanita datang menghampiriku dan bercerita tentang betapa sulitnya menjalin hubungan dengan anaknya laki-laki. Kami berjalan menyusur pantai dan aku menceritakan cinta kasih mama padaku dan tentang surat-surat “Bacalah saat kamu sendirian.” Beberapa minggu kemudian, aku menerima kabar darinya bahwa ia telah menulis surat pertamanya dan memberikannya pada anaknya.

Malam itu saat aku berbaring untuk tidur, aku menyelipkan tanganku kembali ke bawah bantal dan aku ingat betapa leganya kurasakan setiap kali aku mendapat surat. Di tengah masa remajaku yang bergejolak, surat-surat itu menjadi jaminan yang menenangkanku, bahwa aku disayangi dan dicintai bukan karena siapa aku. Dan sebelum aku terlelap dalam tidur, aku berdoa menaikkan syukur karena ibuku tahu apa yang aku butuhkan. Seorang remaja yang penuh amarah dan sangat merindukan pelukan.

Hingga hidupkupun mulai tergoncang oleh badai masalah kehidupan, aku tahu bahwa di bawah bantalku ada cinta yang teguh, yang konsisten, menenangkan dan tanpa syarat, yang mengubah kehidupan. Begitu juga kasih Tuhan dan surat pribadi-Nya, Alkitabmu. Kalaupun kau tak pernah menerima surat dari mamamu, ini, “Bacalah (Alkitabmu) saat kamu sendirian.”

—Mike Staver—
(taken from www.inspire21.com, translated and edited by putri)

(Dari Austria, 1938, Kakek Andrew, sumber internet)

Photo Credit: http://www.opakowanianawynos.pl

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *