email-corne-oktober-2015

AKU BERSYUKUR UNTUK …

Banyak hal di dunia ini yang sebenarnya layak untuk disyukuri. Sayangnya, tak sedikit orang lupa untuk mengucapkannya. Padahal, jika Tuhan bisa menuntut, maka hampir semua penduduk bumi akan mendapatkan asupan oksigen yang terbatas. Jika sedikit saja kita melihat sekitar, maka akan ada satu kepuasan dan kalimat syukur terucap dari mulut.

Seperti halnya mensyukuri napas yang diberikan Tuhan kepada kita. Ada berapa banyak oksigen yang kita hirup dengan cuma-cuma? Itu adalah tanda bahwa kita masih hidup. Masih bisa bernapas tanpa bayar. Lalu, mengapa ada banyak nyawa yang hilang begitu saja hanya karena frustasi dengan hidup? Tak percayakah dengan janji Tuhan yang menyebutkan bahwa Ia tak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya?

Hal lain yang sering kita lupakan adalah betapa kita sangat sombong dengan keadaan yang sementara. Sering lupa dengan siapa pencipta diri kita. Mendahulukan ego tanpa berpikir bahwa ada Tuhan yang menciptakan dan membuat kita menjadi seperti kini. Lupakah kita dengan Tuhan, sehingga menjadi begitu angkuh dengan segala hal?

Tuhan menciptakan kita bukan tanpa maksud. Satu maksud Tuhan adalah agar hamba-Nya bersyukur dan selalu ingat pada Sang Pencipta. Lalu, mengapa kita sering lalai? Tak bisakah kita mendahulukan Tuhan dibandingkan dengan aktivitas duniawi? Ia penciptamu, mengapa dinomor-duakan? Tak ingatkah dengan siksa-Nya yang pedih?

Aceh. Satu contoh kecil bahwa Tuhan murka. Jika demikian, apa yang kita lakukan? Meminta maaf? Kelud contoh yang lain, jika sudah terjadi kita berbondong-bondong untuk bertobat? Tuhan sangat mudah memaafkan hamba-Nya yang taat. Ia juga memberikan banyak janji bagi hamba-Nya. Tetapi mengapa kita sering tak mengindahkan janji-Nya? Tak ingatkah bahwa surga adalah tempat yang kekal nanti?

Bagi Tuhan, memaafkan adalah satu contoh yang mudah Ia lakukan. Tapi mengapa tidak dengan kita? Dimana sifat pemaaf jika kita adalah makhluk sosial? Sedikit dekat dengan sifat pemaaf, adalah ungkapan terima kasih. Sudahkah kita mengucap terima kasih pada orang-orang terdekat, bahkan keluarga, teman, dan kerabat?

Aku tidak sedang menggurui, karena aku juga tengah berbenah. Aku tahu, menjadi baik itu sulit. Banyak usaha yang harus dilakukan. Ibarat sebuah medali emas, memperolehnya dibutuhkan banyak usaha. Kadang jatuh, terpeleset, bahkan terjerembab. Kadang pula kita lupa dengan tujuan menjadi baik, sehingga dibelokkan pada hal-hal yang membuat silau indra.

Terima kasih Tuhan atas segala karunia-Mu. Terima kasih atas segala hal baik yang kau limpahkan pada kami. Begitu juga hal buruk yang Kau limpahkan untuk membuat kami menjadi baik.

Photo Credit: https://c2.staticflickr.com

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *