teenz-hero-februari-2014

Charles de Foucauld

teenz-hero-februari-2014

Charles de Foucauld adalah seorang bangsawan Perancis, yang dilahirkan di Strasbourg, 15 September 1858. Sebelum genap berusia enam tahun, ibunya meninggal dunia karena keguguran. Lima bulan kemudian, ayahnya juga meninggal. Charles hidup sebatang kara dan menjadi sangat sensitif.

charles de foucauld

Saat berusia 15 tahun, Marie, salah seorang sepupunya, bersedia membimbing Charles, untuk beriman pada Tuhan Yesus. Tapi saat Marie menikah, Charles kehilangan imannya yang sedang bertumbuh subur. Ia merasa ditolak dan ditinggalkan. Hal ini membuat dirinya tak mampu bersahabat dengan siapapun.
Hidup menyendiri, egois serta menjadi sangat malas. Ia juga dihantui seksualitasnya yang bergelora. Untunglah ia dapat lulus dari Sekolah menengah umum dan masuk akademi militer.

Charles sangat menghormati kakeknya. Pada Februari 1878, kakeknya meninggal dunia. Sejak kematian kakeknya, hidup Charles menjadi sangat liar. Dengan kekayaannya yang melimpah, ia mengisi kekosongan hatinya dengan kemewahan, menghambur-hamburkan uangnya, tapi ia tidak meninggalkan pendidikan militernya. Setelah lulus, ia ditempatkan di beberapa kota dan akhirnya sampai ke Aljazair, Juli 1881.

Selama berpetualang di Aljazair dan Maroko, Charles belajar bahasa Arab, sehingga dapat membaca Alquran. Ia sangat dipengaruhi agama non Kristen, mendalaminya, bahkan hampir memeluknya. Untung pada tahun1886, Charles bertemu dengan imam Abbe Huvelin, hingga ia mempertimbangkan kembali kebenaran agama Kristen. Charles mulai masuk gereja, walaupun belum percaya sepenuhnya. Namun pada usia 28 tahun, ia menemukan imannya dan bertobat!

Pada Januari 1889, Charles berangkat ke Nazaret dan mengunjungi semua gereja dan tempat-tempat suci yang ada. Pengalaman di tanah suci itu mendesaknya untuk mengikuti Tuhan secara total. Tanggal 15 Januari 1890, ia memutuskan menjadi rahib dan meninggalkan seluruh hartanya. Enam bulan kemudian, ia pergi ke Suriah dan tiba di biara kecil Akbes, dan merasakan perjalanan yang begitu indah hingga ingin mendirikan serikat religius yang baru, karena ingin meneladani Kristus.

Tahun 1897, Charles masuk susteran miskin di Nazaret, setiap pagi membawa kendi air dan roti untuk penghuni biara itu. Setelah tiga tahun tinggal di Nazaret, Charles mempersiapkan diri untuk pentahbisan imamat di Perancis. Dalam dua tahun, ia berhasil menulis sekitar 1500 halaman tentang renungan Injil dan banyak catatan penting lain, yang amat penting bagi Pekabaran Injil.

Pada 9 Juli 1901, Charles ditahbiskan sebagai imam dan tiga bulan kemudian ia berangkat ke Aljazair saat berusia 45 tahun. Ia pun mulai mewartakan Injil di sana. Hal pertama yang dikritiknya adalah perbudakan. Lalu ia mengupayakan pelayanan pada para pelancong miskin, orang sakit dan orang jompo yang terabaikan. Ia juga memikirkan pengadaan sarana pendidikan, kesehatan dan badan sosial Kristen bagi orang miskin. Sekitar Januari 1904, ia berangkat ke Sahara dan menuju perkampungan Suku Tuareg. Hanya dalam waktu dua bulan, ia telah menterjemahkan keempat Injil dalam bahasa Tuareg

Bulan Agustus 1905, Charles menetap di Taman Rasset di daerah pegunungan. Pada awalnya, usaha mendekati orang Tuareg hampir tanpa arti. Pertobatan pendudukpun belum ada. Hal itu amat menggelisahkan hatinya. Apalagi ia pernah merasa amat lemah dan sakit. Ia berpikir bahwa ia akan mati sia-sia di sana. Charles mengalami begitu banyak hambatan, bukan hanya karena alam yang tidak bersahabat tetapi juga karena para pengembara yang biadab. Ia sangat sering ingin menghindari para pengembara itu, tetapi kata-kata Tuhan Yesus sudah mendarah daging dalam hidupnya, ”Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku,” (Mat. 25:40).

Bagi Tuhan, cintalah yang utama, itulah prinsip hidup Charles. Meski ia diteror, diintimidasi, dicurigai, ditekan bahkan dianiaya, ia tetap tegar karena ingin seperti Yesus Tuhannya. Pada 1 Desember 1916, tanpa diduga, Charles si bangsawan yang sombong, yang menjadi rendah hati karena diubah Yesus, terbunuh secara tragis di Taman Rasset.

Share ini ke Google+

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *