be-ready-for-god-renungan-19-april-2014

Be Ready For God

Ayat Emas
“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;”
(Ef. 6:11)

be-ready-for-god-renungan-19-april-2014

Ferry dan adiknya sangat menyukai film action yang berkisah tentang latar belakang sejarah, baik yang diangkat dari kisah nyata maupun fiksi. Karena kecintaan mereka terhadap hal itu nilai mata pelajaran Sejarah mereka bagus.

Ferry dapat menghafal tanggal-tanggal terjadinya perang, dan hal-hal yang terjadi dalam perang tersebut. Bahkan, dia ingin sekali menjadi seorang tentara. Ayahnya sering berkata, “Seorang prajurit itu harus kuat, selalu siap, dan tidak boleh lengah!” Bahkan ayahnya memberikan contoh mengenai prajurit yang baik, dari Efesus 6:10-20. “Hal yang utama dari seorang prajurit adalah kesiapannya. Karena jika seorang prajurit tidak siap, ia akan mengganggu teman-temannya yang sudah siap. Akhirnya barisan mereka bisa-bisa dikalahkan oleh musuh!” tegas ayahnya.

Kerygmers, kamu adalah prajurit-prajurit Kristus, yang harus siap berperang bagi Dia. Iblis sedang melancarkan serangan-serangan bagi anak-anak Tuhan, agar iman kita menjadi lemah. Namun, jika kita siap berperang, maka kita tidak akan terkena serangan-serangan tersebut. So, bersiap sedialah selalu dengan cara tidak meninggalkan ibadah-ibadah di gereja atau doa pribadi. Jadikan dirimu prajurit-prajurit Tuhan yang tangguh dan siap siaga.

Bersiaplah untuk Tuhan, maka Tuhan yang akan memberikan kekuatan
Doaku:
“Tuhan Yesus, aku mau menjadi prajurit-prajurit-Mu yang siap sedia. Tolong perlengkapi aku, ya, Tuhan, setiap waktu. Amin.”
traktat-special-easter-april-2014

Traktat

traktat-special-easter-april-2014

Pada setiap Minggu siang, yaitu sesudah ibadah pagi berakhir, Pak Pendeta dengan anak laki-lakinya yang berumur 11 tahun, selalu pergi ke kota untuk membagikan traktat. Namun pada hari Minggu siang itu, udara di luar terasa sangat dingin, karena hujan telah menyirami bumi sejak pagi.

Ketika saat untuk membagikan traktat tiba, anak laki-laki itu mulai bersiap-siap mengenakan baju hangatnya dan berkata, “Aku sudah siap, Pa!”
“Siap untuk apa?” Pendeta itu menjawab.
“Pa, bukankah ini waktu bagi kita untuk membagikan traktat-traktat ini?”
Pendeta itu pun menjawab, “Nak,… di luar udara sangat dingin dan hujan masih turun.”
Anak itu memandang papanya dengan penuh keheranan, “Tapi Pa, meskipun hujan turun, bukankah masih ada banyak orang yang belum mengenal Tuhan Yesus dan mereka nanti akan masuk neraka?”
Pendeta itu menjawab, “Tapi Nak,… aku tidak ingin pergi dalam cuaca seperti ini.” Dengan sedih anak itu memohon, “Pa,… aku harus pergi, boleh, kan?”

Pendeta itu ragu-ragu sejenak, lalu berkata, “Kamu tetap ingin pergi? Kalau begitu, ini traktat-traktatnya dan hati-hatilah di jalan, ya.”
“Terimakasih, Pa!!!” Lalu anak itu bergegas meninggalkan rumahnya dan pergi menembus hujan dan udara luar yang sangat dingin.

Anak laki-laki berusia 11 tahun ini berjalan di sepanjang jalan-jalan kota, sambil membagi-bagikan traktat Injil dari rumah ke rumah. Setiap orang yang ditemuinya di jalan diberinya traktat. Sesudah dua jam berjalan di tengah-tengah hujan, anak ini mulai menggigil kedinginan, tapi masih ada satu traktat Injil terakhir yang masih di tangannya. Lalu ia berhenti di suatu sudut jalan dan mencari seseorang yang dapat diberinya traktat. Tapi jalanan itu sudah sepi sama sekali. Lalu ia menuju ke rumah pertama yang dilihatnya di ujung jalan itu. Ia berjalan mendekati pintu depan rumah itu dan membunyikan bel.

Setelah ia memencet bel, tidak ada jawaban dari dalam rumah. Lalu ia memencet bel lagi dan lagi, tapi tetap tidak ada jawaban. Ditunggunya lagi beberapa waktu, namun masih saja tidak ada jawaban. Akhirnya, anak laki-laki ini memutuskan untuk pergi, tapi ada sesuatu yang mencegah keinginannya untuk pergi. Maka sekali lagi, dia menuju pintu, memencet bel dan mengetuk pintu keras-keras dengan tangannya. Ia menunggu, ada perasaan kuat yang membuatnya tetap ingin menunggu di depan rumah itu. Dia memencet bel lagi, dan kali ini pintu itu perlahan-lahan dibuka.

Nampak seorang wanita yang berwajah sedih, berdiri di depan pintu. Wanita itu dengan pelan bertanya, “Ada apa, Nak? Apa yang dapat kulakukan untukmu?” Dengan mata bersinar-sinar dan tersenyum, anak laki-laki ini berkata, “Ibu, maafkan aku karena mengganggumu, tapi aku hanya ingin mengatakan bahwa Tuhan Yesus sungguh-sungguh mengasihimu, dan aku datang ke rumah ini untuk memberikan traktat Injil terakhir yang aku miliki. Traktat Injil ini akan menolong Ibu untuk dapat mengetahui segala sesuatu tentang Yesus dan Kasih-Nya yang besar.”

Anak itu memberikan traktat terakhirnya kepada wanita itu dan segera pergi. Saat beranjak pergi, wanita itu berkata, “Terimakasih, Nak! Tuhan memberkatimu!”
Hari Minggu berikutnya, Pak Pendeta, papa dari anak laki-laki tadi, berdiri di balik mimbar dan memulai ibadahnya dengan pertanyaan, “Adakah di antara jemaat yang ingin memberikan kesaksian atau ingin membagikan sesuatu?”

Di barisan kursi paling belakang, seorang wanita terlihat perlahan-lahan berdiri. Saat ia mulai bicara, nampak wajahnya berseri-seri dan ia berkata, “Tidak satupun di antara Anda yang mengenal aku. Aku belum pernah ke gereja ini sebelumnya. Anda perlu ketahui, hari Minggu yang lalu aku bukanlah seorang Kristen. Suamiku telah meninggal beberapa waktu yang lalu, dan meninggalkan aku sendiri di dunia ini,” cerita wanita itu.

“Hari Minggu yang lalu,” lanjut wanita itu, “dinginnya hatiku melebihi dinginnya cuaca dan hujan di luar rumah. Aku berpikir aku tidak kuat dan tidak sanggup lagi untuk hidup. Lalu aku mengambil tali dan sebuah kursi, kemudian naik tangga menuju ke loteng rumah. Aku mengencangkan ikatan tali kuat-kuat di palang kayu penopang atap, lalu berdiri di kursi dan mengikatkan ujung tali yang lain di leherku. Aku berdiri di kursi itu dengan hati yang hancur. Saat aku hendak menendang kursi itu, tiba-tiba bel rumahku berbunyi nyaring,” cerita wanita itu dengan bibirnya yang bergetar.

“Aku menunggu beberapa saat sambil bertanya dalam hati, siapakah yang membunyikan bel itu? Aku menunggu lagi, karena bel itu berkali-kali berbunyi dan semakin lama kedengarannya semakin nyaring. Apalagi ketika terdengar ketokan pintu. Siapa yang melakukan hal ini? tanyaku dalam hati. Tak ada orang yang pernah membunyikan bel rumah dan mengunjungiku. Lalu aku mengendorkan ikatan di leherku dan bel yang berbunyi mengiringi langkahku menuju pintu depan di lantai bawah,” ucap wanita itu sambil menghela nafasnya sejenak.

“Ketika kubuka pintu, aku hampir tidak percaya dengan apa yang aku lihat, karena di teras rumahku berdiri seorang anak anak laki-laki yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Wajahnya berseri-seri seperti malaikat dan senyumnya… oh aku tidak dapat menggambarkannya pada Anda! Dan perkataan yang diucapkannya sungguh menyentuh hatiku yang telah lama beku. Ibu, aku hanya ingin mengatakan bahwa Tuhan Yesus sungguh-sungguh mengasihimu. Lalu dia memberiku traktat Injil yang saat ini kupegang.”

“Saat malaikat kecil itu menghilang dari rumahku, menembus dingin udara dan hujan, aku menutup pintu dan membaca setiap kata dalam traktat Injil ini. Aku kembali ke loteng untuk mengambil tali dan kursi yang akan kupakai untuk bunuh diri, karena aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Anda lihat, sekarang aku seorang Anak Raja yang bahagia dan karena ada alamat gereja ini di bagian belakang traktat, maka aku datang ke tempat ini untuk mengucapkan terimakasih pada malaikat kecil yang datang tepat pada waktu aku membutuhkannya. Tindakannya itu telah menyelamatkan jiwaku dari hukuman neraka yang kekal.”

Seluruh jemaat di gereja itu meneteskan air mata. Seiring dengan pujian syukur yang dinaikkan untuk memuliakan Raja, yang bergema di setiap sudut bangunan gereja. Pak Pendeta turun dari mimbar dan pergi menuju ke bangku di barisan depan, tempat dimana “malaikat kecil” itu duduk. Pak Pendeta itu menangis tak tertahankan dalam pelukan anaknya.

Pertolongan Tuhan selalu tepat pada waktunya. Dia menawarkan anugerah-Nya cuma-cuma. Bahkan di balik setiap peristiwa ia membuatnya supaya engkau percaya bahwa Tuhan Yesus sangat mengasihimu. Jangan khawatir, jangan bimbang. Masih ada Tuhan… Masih ada Pengharapan… Masih ada Jawaban…
Jesus Loves You…!!!


“Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”
(2 Pet. 3:9)
waspadalah-renungan-18-april-2014

Waspadalah…!

Ayat Emas
“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya”
(1 Pet. 5: 8)

waspadalah-renungan-18-april-2014

Romi sering bepergian dengan ayahnya, mengendarai mobil. Ayah selalu mengingatkan Romi untuk memasang sabuk pengaman agar menghindari luka yang parah, jika terjadi kecelakaan.

Jika mereka bepergian dengan sepeda motor, maka ayah selalu meminta Romi memakai helm. Terkadang ayah memperingatkan dengan keras, jika Romi berpura-pura lupa memakainya. Menurut ayah, Romi harus waspada untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Kalian pernah mendengar berita, seorang anak kecil terjepit di eskalator sebuah mall, gara-gara orangtuanya yang ceroboh, membiarkan anaknya yang hanya memakai sandal jepit, berjalan sendiri di atas eskalator? Ternyata tindakan ceroboh atau kurang waspada orangtua tersebut menjadikan celaka bagi anak kesayangannya.

Sikap waspada itu penting. Di sekeliling kita, ada banyak perangkap yang kadang menggoda dan membuat kita menjadi lengah. Iblis memasang jebakan untuk menggoda kita melakukan dosa. Ini adalah peperangan yang sedang dihadapi anak-anak Tuhan.

Lukas 12:1, dengan tegas mengatakan, “Waspadalah…!” Jangan sampai kita memberikan kesempatan bagi Iblis untuk menggoda kita. Jika ada ajakan-ajakan dari teman-teman kita, misal untuk membolos, mencuri, dan melakukan hal-hal yang salah, tolak semuanya dengan tegas. Setiap hari mintalah bantuan dari Tuhan Yesus untuk bisa menghadapi segala macam jebakan Iblis. Jangan takut dengan auman si Iblis. Tetaplah waspada dan berjalan bersama dengan Tuhan Yesus.

Sikap waspada sangat penting dalam menjalani hidup kekristenan
Doaku:
“Tuhan Yesus yang baik, tolonglah aku untuk melawan setiap godaan di sekitarku. Dalam nama Tuhan Yesus, kupatahkan kuasa kegelapan. Amin.”
zaneta-naomi-teenz-idol-april-2014

Zaneta Naomi: Tetap Rendah Hati di Tengah Popularitas

zaneta-naomi-teenz-idol-april-2014

Wah, siapa yang tak ingin berprestasi dan menjadi populer di dunia ini? Apalagi di usia yang muda sudah bisa tampil bersama tokoh-tokoh terkenal di dunia ini. Zaneta Naomi, salah satu penyanyi muda Indonesia, mendapat kesempatan seperti itu.

zaneta-naomi-teenz-idol-april-2014

Setelah menanti-nanti untuk beraksi di atas panggung bareng maestro musisi dunia, David Foster, beberapa waktu lalu, akhirnya Zaneta Naomi, yang akrab dipanggil Neta, bisa meluapkan perasaan bangga, gembira, haru, dan rasa tak percayanya, setelah berhasil menyelesaikan ‘tugasnya’ menyanyikan lagu “Listen” milik Beyonce, dengan sempurna.

Dalam sebuah konser yang bertajuk David Foster and Friend – Hitman Returns, di JCC, Jakarta, (28/10/2011), Neta, demikian panggilan akrabnya, tidak menyangka kalau dirinya bisa lancar menampilkan performanya, bahkan mendapat standing ovation dari ribuan penonton yang memadati JCC. Padahal, beberapa jam sebelumnya, dia ‘nyaris’ jungkir balik memenuhi tenggat menghapal lagu yang didapatnya hanya beberapa jam sebelum manggung (*/Ezz:Sevenmusik).

Neta mulai dikenal di blantika musik Indonesia setelah terpilih dari 8000 peserta pada ajang pencarian bakat “Born to sing Asia” yang diadakan oleh musisi kelas dunia David foster. Ada enam negara di Asia yang mengikuti ajang tersebut, salah satunya Indonesia, yang diwakili Oleh Zaneta Naomi dan Putri Ayu, yang membuat kita bangga adalah keduanya anak-anak Tuhan.

biodata-zaneta-naomi-teenz-idol-april

Sejak tampil bareng dengan David Foster, hampir semua TV di Indonesia sering mengundang Neta untuk menyanyi pada acara-acara besar mereka, seperti Closing Sea Games. Saat ini dia telah merilis mini album di tengah-tengah kesibukannya dalam pelayanan di GBI Rehobot, yakni pelayanan KKR di seluruh Indonesia bersama Gembala Sidangnya, Pdt. DR. Erastus Sabdono.

Neta yang bercita-cita untuk menjadi penyanyi profesional ini, mengaku mengidolakan alm. Penyanyi Whitney Houston. “Aku suka penyanyi yang berteknik tinggi dalam menyanyi,” akunya. Karena itu dia sangat bersyukur saat bisa belajar tentang teknik menyanyi dari David Foster. “Awalnya mungkin sulit, karena belum terbiasa dengan pola kerja mereka. Tapi, kalau sudah sering bekerjasama dengan mereka pasti gak akan sulit lagi. Tantangannya memang harus super-super perfect kerja sama dengan mereka,” cerita Neta, yang tahun ini menginjak usia 15 tahun.

Meski sibuk luar biasa, untuk memenuhi undangan bernyanyi di seluruh Indonesia,
ternyata Neta tetap menomor satukan pendidikannya. Hal ini terbukti dari banyaknya prestasi yang telah ia raih, termasuk selalu rangking satu di kelasnya.

Perjalanan Neta, tidak selalu berhasil. Terkadang ia juga menemui kegagalan. Meski demikian dia tidak mau menyerah. “Apa yang orang lain sebut kegagalan, buat aku adalah proses untuk menjadi lebih baik!” tegas Neta yang mengaku banyak mendapat dorongan dari mama dan papanya tersebut. Terkadang, saat dia memiliki sedikit waktu luang, maka ia menghabiskannya bersama kedua orangtuanya.

zaneta-teenz-idol-april-2014

“Mimpiku aku sangat ingin musik gereja juga bisa berkembang. Tuhan Yesus adalah Tuhanku dan Alkitab bilang: aku harus sempurna seperti Bapa di surga yang sempurna, makanya aku harus mengikuti jejak-Nya. Aku ingin remaja-remaja di Indonesia juga lebih menyintai Tuhan, mempergunakan waktu yang ada untuk mempersiapkan masa depan di dunia dan di langit baru dan bumi yang baru,” ucap Neta, yang telah mengumpulkan sekitar 25 tropy dari berbagai kejuaraan menyanyi maupun bidang akademisnya.

“Aku sadar kalau semua punya Tuhan, hidup kita 100% punya Tuhan. Jadi gak ada yang bisa disombongkan. Kalau aku terima popularitas, ya aku kembalikan untuk pekerjaan Tuhan. Kata Papaku, kalau kita dikasih banyak pasti dituntut banyak juga,” tegas Neta mengakhiri percakapan.

(by: Ayik)

tetap-teguh-renungan-17-april-2014

Tetap Teguh

Ayat Emas
“Bagi mereka semuanya itu adalah tanda kebinasaan, tetapi bagi kamu tanda keselamatan, dan itu datangnya dari Allah”
(Flp. 1:28b)

tetap-teguh-renungan-17-april-2014

Belakangan ini banyak muncul film-film yang menceritakan tentang akhir zaman. Dikisahkan dalam film-film tersebut bahwa akan tanda-tanda seperti gempa bumi, tsunami, dan bencana-bencana alam lain yang menakutkan.

Saat melihat film-film tersebut, pasti akan ada ketakutan dalam hati. Rasa takut itu wajar, namun firman Tuhan telah mengajar pada kita untuk tidak takut menghadapi hari-hari yang akan datang.

Jika hidup kita sesuai dengan firman Tuhan, maka pasti Tuhan Yesus akan melindungi kita sampai akhir. Musuh-musuh kita, yaitu Iblis selalu berusaha melemahkan iman kita. Tetapi Tuhan Yesus akan membela anak-anak-Nya, yang tetap berdiri teguh menghadapi semua godaan dari musuh kita.

Kerygmers, menghilangkan godaan dan rayuan dari para musuh kita bukanlah hal yang mudah. Tapi yang bisa kita lakukan adalah tetap teguh dalam kebenaran firman-Nya. Jika kita tetap bersandar dalam firman-Nya, maka hari-hari buruk tidak akan menimpa kita. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, namun yang kita tahu adalah selalu ada harapan di dalam Tuhan Yesus.

Firman Tuhan adalah jaminan hidupku!
Doaku:
“Tuhan Yesus, bantu aku untuk dapat mengerti firman-Mu dan melakukannya dalam hidupku, Amin.”
my-true-shelter-renungan-16-april-2014

My True Shelter

Ayat Emas
“Berikanlah kepada kami pertolongan terhadap lawan, sebab sia-sia penyelamatan dari manusia ”
(Mzm. 60:13)

my-true-shelter-renungan-16-april-2014

Didi suka bermain petak umpet dengan menggunakan pistol air, bersama dengan teman-temannya. Mereka biasanya bermain di dekat lapangan bola, di dekat rumah Didi.

Aturan mainnya, anak yang berperan sebagai si penjahat, yang memegang pistol air, akan mencari anak-anak yang bersembunyi. Jika si penjahat menemukan mereka, maka ia akan menembak mereka dengan pistol air.

Suatu hari mereka bermain permainan ini. Didi telah menemukan tempat persembunyian yang strategis dan nyaman. Dia duduk bersembunyi, menunggu temannya yang menjadi si penjahat, menemukan dirinya. Setelah 10 menit menunggu, dia mulai merasa mengantuk. Angin sepoi-sepoi di tempat persembunyiannya, serta tempat duduk yang nyaman, membuatnya mengantuk, dan akhirnya tertidur.

Sampai sore hari, karena teman-temannya tidak dapat menemukan Didi, akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing. Menjelang matahari terbenam, dia terbangun dengan kaget dan segera pulang ke rumah. Wah, rupanya Didi telah memenangkan permainan ini, karena menemukan tempat perlindungan yang nyaman.

Demikian juga di dalam Tuhan Yesus, ada perlindungan yang aman bagi anak-anak-Nya. So, Kerygmers, berlindunglah pada Tuhan, sebab keselamatan yang dari pada-Nya adalah sejati.

Hanya Engkau yang menjadi tempat perlindunganku!
Doaku:
“Tuhan Yesus, tolong aku untuk menyadari bahwa Engkaulah tempat perlindunganku yang sempurna. Jangan biarkan aku berlalu dari-Mu. Amin”

KaTA – Kampoeng Tempat Anak-anak Allah